Senin, 06 Juli 2015

Ulama Digantikan oleh Pemimpin yang Bodoh

Hadis berikut ini menyebutkan bahwa selama masa-masa terakhir dunia, urusan masyarakat muslim akan jatuh ketangan orang-orang yang benar-benar bodoh dan tidak mempunyai pemahaman tentang agama Islam.

‘Abd Allâh ibn ‘Amr ibn al-‘Âsh meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:" Allah tidak akan mencabut pengetahuan dari hati para ulama, tetapi Dia akan mewafatkan mereka (mereka meninggal). Tidak ada lagi ulama yang menggantikan tempat mereka, sehingga orang akan mempercayakan urusannya kepada pemimpin yang sangat bodoh. Mereka akan menghadapi berbagai persoalan, dan akan memberikan fatwa tanpa pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan".

Ramalan tersebut telah terbukti, karena orang-orang Islam dewasa ini telah mengangkat pemimpin yang hanya tahu kulit luar Islam, tetapi tidak mengerti praktik dan inti Islam. Misalnya, sering kali seorang pengusaha, dokter, atau insinyur diangkat menjadi imam masjid. Para profesional itu tidak mempunyai latar belakang pendidikan Islam tradisional. Mereka tidak mempelajari syariat, Alquran, atau hadis. Mereka tidak tahu bagaimana mengambil keputusan hukum atau bagaimana menjelaskan tema-tema tertentu dalam Islam.

Jadi, sementara bekerja sepenuh waktu dalam profesinya masing-masing, mereka meletakkan tugas kepemimpinannya terhadap masyarakat muslim pada urutan kedua, persis seperti kerja sampingan atau hobi. Mereka memang dapat bertindak sebagai imam atau memimpin salat jika tidak ada orang lain yang lebih representatif untuk melaksanakan tugas tersebut. Namun, ketika orang-orang tersebut mengklaim sebagai wâ‘izh (ulama, penceramah, atau pemberi nasihat), mereka berarti telah melampaui batas kewenangannya, dan dapat membawa kerusakan serius pada masyarakat muslim.

Pemimpin masyarakat muslim semacam itu akan mengubah masjid menjadi arena untuk memperebutkan dominasi sosial, bukan sebagai tempat untuk meningkatkan kehidupan keagamaan dan spiritual. Hal semacam itu juga telah diramalkan oleh Nabi saw.Anas meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, "Sungguh, salah satu tanda akhir zaman adalah ketika orang menyombongkan diri di masjid".

TAWASSUL - mencari perantaraan

Saudara saudaraku masih banyak yang memohon penjelasan mengenai tawassul, waha saudaraku, Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pada Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian berpuluh puluh perantara sampai pada guru kita, yang mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt.

Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).

Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan beliau saw sendiri bersabda : “Barangsiapa yang mendengar adzan lalu menjawab dengan doa : “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yang sempurna ini, dan shalat yang dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya Kedudukan yang terpuji sebagaimana yang telah kau janjikan padanya”. Maka halal baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442)

Hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang tawassul pada beliau saw, bahkan orang yang mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw.

Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal perbuatanku yang saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits yang panjang menceritakan tiga orang yang terperangkap di goa d an masing masing bertawassul pada amal shalihnya.
Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yang diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dengan doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yang melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dengan derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).

Riwayat diatas menunjukkan bahwa :
Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt. Para ahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan Allah swt.
Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar ra : “Dengan Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?, misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra, namun justru beliau tak mengucapkan nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.
Para sahabat besar bertawassul pada kemuliaan sahabatnya yang melihat Rasul saw, perhatikan ucapan Umar bin Khattab ra : “dengan pamannya yang melihatnya” (dengan paman nabi saw yang melihat Nabi saw) jelaslah bahwa melihat Rasul saw mempunyai kemuliaan tersendiri disisi Umar bin Khattab ra hingga beliau menyebutnya dalam doanya, maka melihat Rasul saw adalah kemuliaan yang ditawassuli Umar ra dan dikabulkan Allah.

Tentang Takdir

Apa yang dikehendaki Allah dengan apa yang Allah cintai

Pertanyaan:
Salam Alaykum Sayyidi,
Saya selalu percaya bahwa sesuatu yang terjadi atau akan terjadi semata-mata adalah sesuai dengan apa yang Allah inginkan, apakah kita menyukainya atau tidak terlepas dari apakah kita merasa “bertanggung jawab”.  Pemahaman ini, masya Allah, mempermudah saya melewati banyak cobaan yang bisa saja menghancurkan keimanan saya.
Saya pikir menyatakan bahwa sesuatu yang terjadi BUKAN karena kehendak Allah, jelas bahwa itu adalah kufr.  Tetapi setelah berdiskusi dengna beberapa murid (yang mengatakan bahwa itu tidak benar) sekarang saya khawatir bahwa saya masih dapat dinodai oleh doktrin penghujatan yang saya ambil ketika saya masih seorang Takfiiri.
Mohon diberikan pemahaman terbaik mengenai hal ini.  Terima kasih wahai guru dan mohon maafkan saya.

Jawaban Hajj Gibril Haddad :
`Alaykum Salam,
Penting untuk mengetahui perbedaan antara apa yang dikehendaki Allah dengan apa yang Allah cintai.  Sebagaimana seorang guru dalam akidah Maturidi yaitu Siraj al-Din `Ali ibn `Utsman al-Ushi (w. 569) berkata di dalam puisinya Manzumat Bad’ al-Amali (ayat 4):
[Allah adalah] Dzat yang menghendaki kebaikan dan juga keburukan,

TABARRUK

TABARRUK - mengambil keberkahan dari bekas atau tubuh Shalihin

Banyak orang yang keliru memahami makna hakikat tabarruk dengan Nabi Muhammad saw, peninggalan-peninggalannya saw, dan para pewarisnya yakni para ulama, para kyai dan para wali dan shalihin. Karena hakekat yang belum mereka pahami, mereka berani menilai kafir (sesat) atau musyrik terhadap mereka yang bertabarruk pada Nabi saw atau ulama.

Mengenai azimat (Ruqyyat) dengan huruf arab merupakan hal yang diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah swt. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada kitab Faidhulqadir Juz 3 hal 192, dan Tafsir Imam Qurtubi Juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata mata adalah bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat ayat Alqur’an.

Mengenai benda-benda keramat, maka ini perlu penjelasan yang sejelas jelasnya, bahwa benda benda keramat itu tak bisa membawa manfaat atau mudharrat, namun mungkin saja digunakan Tabarrukan (mengambil berkah) dari pemiliknya dahulu, misalnya ia seorang yang shalih, maka sebagaimana diriwayatkan :

Para sahabat seakan akan hampir saling berkelahi saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya Rasulullah saw (Shahih Bukhari Hadits no. 186),

Allah swt menjelaskan bahwa ketika Ya’qub as dalam keadaan buta, lalu dilemparkanlah ke wajahnya pakaian Yusuf as, maka iapun melihat, sebagaimana Allah menceritakannya dalam firman Nya SWT :
“(Berkata Yusuf as pada kakak kakaknya) PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA” (QS Yusuf 93), dan pula ayat : “MAKA KETIKA DATANG PADANYA KABAR GEMBIRA ITU, DAN DILEMPARKAN PADA WAJAHNYA (pakaian Yusuf as) MAKA IA (Ya’qub as) SEMBUH DARI KEBUTAANNYA” (QS Yusuf 96).
Ini merupakan dalil Alqur’an, bahwa benda/pakaian orang orang shalih dapat menjadi perantara kesembuhan dengan izin Allah tentunya, kita bertanya mengapa Allah sebutkan ayat sedemikian jelasnya?, apa perlunya menyebutkan sorban yusuf dengan ucapannya : “PERGILAH KALIAN DENGAN BAJUKU INI, LALU LEMPARKAN KEWAJAH AYAHKU, MAKA IA AKAN SEMBUH DARI BUTANYA” .

Untuk apa disebutkan masalah baju yang dilemparkan kewajah ayahnya?, agar kita memahami bahwa Allah SWT memuliakan benda benda yang pernah bersentuhan dengan tubuh hamba hamba Nya yang shalih. kita akan lihat dalil dalil lainnya.

Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yang sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yang sakit (shahih Muslim hadits no.2069).

Rasul saw sendiri menjadikan air liur orang mukmin sebagai berkah untuk pengobatan, sebagaimana sabda beliau : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa air liur orang mukmin dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, hadits ini menjelaskan bahwa rasul saw bertabarruk dengan air liur mukminin bahkan tanah bumi, menunjukkan bahwa pada hakikatnya seluruh ala mini membawa keberkahan dari Allah swt.

Asy Syarif Abul Hasan Ali asy Syadzily

Asy Syekh al Imam al Quthub al Ghouts Sayyidina Asy Syarif Abul Hasan Ali asy Syadzily al Hasani bin Abdullah bin Abdul Jabbar, terlahir dari rahim sang ibu di sebuah desa bernama Ghomaroh, tidak jauh dari kota Saptah, negeri Maghrib al Aqsho atau Marokko, Afrika Utara bagian ujung paling barat, pada tahun 593 H / 1197 M. Beliau merupakan dzurriyat atau keturunan ke dua puluh dua dari junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, dengan urut-urutan sebagai berikut, asy Syekh Abil Hasan Ali asy Syadzily adalah putra dari :

1. Abdullah, bin
2. Abdul Jabbar, bin
3. Tamim, bin
4. Hurmuz, bin
5. Khotim, bin
6. Qushoyyi, bin
7. Yusuf, bin
8. Yusa', bin
9. Wardi, bin
10. Abu Baththal, bin
11. Ali, bin
12. Ahmad, bin
13. Muhammad, bin
14. 'Isa, bin
15. Idris al Mutsanna, bin
16. Umar, bin
17. Idris, bin
18. Abdullah, bin
19. Hasan al Mutsanna, bin
20. Sayyidina Hasan, bin
21. Sayyidina Ali bin Abu Thalib wa Sayyidatina Fathimah az Zahro' binti
22. Sayyidina wa habibina wa syafi'ina Muhammadin, rosulillaahi shollolloohu 'alaihi wa aalihi sallam.


Sejak kecil Beliau biasa dipanggil dengan nama: 'ALI, sudah dikenal sebagai orang yang memiliki akhlaq atau budi pekerti yang amat mulia. Tutur katanya sangat fasih, halus, indah dan santun, serta mengandung makna pengertian yang dalam. Di samping memiliki cita-cita yang tinggi dan luhur, Beliau juga tergolong orang yang memiliki kegemaran menuntut ilmu. Di desa tempat kelahirannya ini, Beliau mendapat tempaan pendidikan akhlaq serta cabang ilmu-ilmu agama lainnya langsung di bawah bimbingan ayah-bunda beliau. Beliau tinggal di desa tempat kelahirannya ini sampai usia 6 tahun, yang kemudian pada akhirnya hijrah ke kota Tunis (sekarang ibu kota negara Tunisia, Afrika Utara) yang semata-mata hanya untuk tujuan tholabul 'ilmi di samping untuk menggapai cita-cita luhur Beliau menjadi orang yang memiliki kedekatan dan derajat kemuliaan di sisi Allah SWT.
Beliau sampai di kota Tunis, sebuah kota pelabuhan yang terletak di tepi pantai Laut Tengah, pada tahun 599 H / 1202 M. Di suatu hari Jumat, Beliau pernah ditemui oleh Nabiyyullah Khidlir 'alaihissalam, yang mengatakan bahwa kedatangannya pada saat itu adalah diutus untuk menyampaikan keputusan Allah SWT atas diri Beliau yang pada hari itu telah dinyatakan dipilih menjadi kekasih Robbul 'Alamin dan sekaligus diangkat sebagai Wali Agung dikarenakan Beliau memiliki budi luhur dan akhlaq mulia.
Segera setelah pertemuan dengan Nabiyyullah Khidir a.s. tersebut, Beliau segera menghadap Syekh Abi Said al Baji, rokhimahullah, salah seorang ulama besar di Tunis pada waktu itu, dengan maksud untuk mengemukakan segala peristiwa yang Beliau alami sepanjang hari itu. Akan tetapi pada saat sudah berada di hadapan Syekh Abi Said, sebelum Beliau mengungkapkan apa yang menjadi maksud dan tujuannya menghadap, ternyata Syekh Abi Said al Baji sudah terlebih dahulu dengan jelas dan runtut menguraikan tentang seluruh perjalanan Beliau sejak keberangkatannya dari rumah sampai diangkat dan ditetapkannya Beliau sebagai Wali Agung pada hari itu. Sejak saat itu Beliau tinggal bersama Syekh Abi Said sampai beberapa tahun guna menimba berbagai cabang ilmu agama. Dari Syekh Abi Said Beliau banyak belajar ilmu-ilmu tentang Al Qur'an, hadits, fiqih, akhlaq, tauhid, beserta ilmu-ilmu alat. Selain itu, karena kedekatan Beliau dengan sang guru, Beliau juga berkesempatan mendampingi Syekh Abi Said menunaikan ibadah haji ke Mekkah al Mukarromah sampai beberapa kali. Namun, setelah sekian tahun menuntut ilmu, Beliau merasa bahwa seluruh ilmu yang dimilikinya, mulai dari ilmu fiqih, tasawwuf, taukhid, sampai ilmu-ilmu tentang al Qur'an dan hadist, semuanya itu Beliau rasakan masih pada tataran syariat atau kulitnya saja. Karena itu Beliau berketetapan hati untuk segera menemukan jalan (thoriqot) itu sekaligus pembimbing (mursyid)-nya dari seorang Wali Quthub yang memiliki kewenangan untuk memandu perjalanan ruhaniyah Beliau menuju ke hadirat Allah SWT ? Maka dengan tekad yang kuat Beliau memberanikan diri untuk berpamitan sekaligus memohon doa restu kepada sang guru, syekh Abi Said al Baji, untuk pergi merantau demi mencari seseorang yang berkedudukan sebagai Quthub.


Perantauan Mencari Sang Quthub

Tempat pertama yang dituju oleh Beliau adalah kota Mekkah yang merupakan pusat peradaban Islam dan tempat berhimpunnya para ulama dan sholihin yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk memperdalam berbagai cabang ilmu-ilmu agama. Namun setelah berbulan-bulan tinggal di Mekkah, Beliau belum juga berhasil menemukan orang yang dimaksud. Sampai akhirnya pada suatu seat Beliau memperoleh keterangan dari beberapa ulama di Mekkah bahwa Sang Quthub yang Beliau cari itu kemungkinan ada di negeri Iraq yang berjarak ratusan kilo meter dari kota Mekkah.
Sesampainya di Iraq, dengan tidak membuang-buang waktu, segeralah Beliau bertanya ke sana-sini tentang seorang Wali Quthub yang Beliau cari kepada setiap ulama dan masyayikh yang berhasil Beliau temui. Akan tetapi, mereka semua rata-rata menyatakan tidak mengetahui keberadaan seorang Wali Quthub di negeri itu.
Memang sepeninggal Sulthonil Auliya'il Quthbir Robbani wal Ghoutsish Shomadani Sayyidisy Syekh Abu Muhammad Abdul Qodir al Jilani, rodliyallahu 'anh, kedudukan Wali Quthub yang menggantikan Syekh Abdul Qodir Jilani oleh Allah disamarkan atau tidak dinampakkan dengan jelas. Pada waktu kedatangan Syekh Abil Hasan ke Baghdad itu, Syekh Abdul Qodir Jailani (470 - 561 H./1077 - 1166 M.) sudah wafat sekitar 50 tahun sebelumnya (selisih waktu antara wafatnya Syekh Abdul Qodir dan lahirnya Syekh Abil Hasan terpaut sekitar 32 tahun). Di kala hidupnya, asy Syekh. Abdul Qodir diakui oleh para ulama minash Shiddiqin sebagai seorang yang berkedudukan "Quthbul Ghouts".
Akhirnya, Beliau mendengar adanya seorang ulama yang merupakan seorang pemimpin dan khalifah thoriqot Rifa'iyah yaitu asy Syekh ash Sholih Abul Fatah al Wasithi, rodliyAllahu 'anh. Syekh Abul Fatah adalah, yang memiliki pengaruh dan pengikut cukup besar di Iraq pada waktu itu. Segeralah Beliau sowan kepada Syekh Abul Fatah dan mengemukakan bahwa Beliau sedang mencari seorang Wali Quthub yang akan Beliau minta kesediaannya untuk menjadi pembimbing dan pemandu perjalanan ruhani Beliau menuju ke hadirat Allah SWT.
Mendengar penuturan beliau, asy Syekh Abul Fatah sembari tersenyum kemudian mengatakan, "Wahai anak muda, engkau mencari Quthub jauh jauh sampai ke sini, padahal orang yang engkau cari sebenarnya berada di negeri asalmu sendiri. Beliau adalah seorang Quthubuz Zaman nan Agung pada saat ini. Sekarang pulanglah engkau ke Maghrib (Maroko) dari pada bersusah payah berkeliling mencari di negeri ini. Beliau, pada saat ini sedang berada di tempat khalwatnya, di sebuah gua di puncak gunung. Temuilah yang engkau cari di sana!"

Perjalanan Spiritual Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani

Dari buku : The Naqshbandi Sufi Way, History
Oleh : Syaikh Muhammad Hisham Kabbani, 1995


Beliau dilahirkan di Larnaca, Siprus, pada hari Minggu, tanggal 23 April 1922 – atau 26 Shaban 1340 H. Dari sisi ayah, beliau adalah keturunan Abdul Qadir Jailani, pendiri thariqat Qadiriah. Dari sisi ibunya, beliau adalah keturunan Jalaluddin Rumi, pendiri thariqat Mawlawiyyah, yang juga merupakan keturunan Hassan-Hussein (as ) cucu Nabi Muhammad saw. Selama masa kanak-kanak di Siprus, beliau selalu duduk bersama kakeknya, salah seorang syaikh thariqat Qadiriah untuk belajar spiritualitas dan disiplin. Tanda-tanda luar biasa telah nampak pada syaikh Nazim kecil, tingkah lakunya sempurna. Tidak pernah berselisih dengan siapapun, beliau selalu tersenyum dan sabar. Kedua kakek dari pihak ayah dan ibunya melatih beliau pada jalan spiritual.
Ketika remaja, Shaykh Nazim sangat diperhitungkan karena tingkat spiritualnya yang tinggi. Setiap orang di Larnaca mengenal beliau, karena dengan umur yang masih amat muda mampu menasihati orang-orang, meramal masa depan dan dengan spontan membukanya. Sejak umur 5 tahun sering ibundanya mencarinya, dan didapati beliau sedang berada didalam masjid atau di makam Umm Hiram, salah satu sahabat Nabi Muhammad (saw) yang berada di sebelah masjid. Banyak sekali turis mendatangi makam tersebut karena tertarik akan pemandangan sebuah batu yang tergantung diatas makam itu.
Ketika sang ibu mengajaknya pulang, beliaumengatakan :
” Biarkan aku disini dengan Umm Hiram, beliau adalah leluhur kita.”
Biasanya terlihat syaikh Nazim sedang berbicara, mendengarkan dan menjawab seperti berdialog dengannya. Bila ada yang mengusiknya, beliaukatakan :
“ Biarkan aku berdialog dengan nenekku yang ada di makam ini.”

Ayahnya mengirim beliau ke sekolah umum pada siang hari dan sorenya belajar ilmu-ilmu agama. Beliau seorang yang jenius diantara teman-temannya.Setelah tamat sekolah ( setara SMU ) syaikh Nazim menghabiskan malam harinya untuk mempelajari thariqat Mawlawiyyah dan Qadiriah. Beliau mempelajari ilmu Shariah, Fiqih, ilmu tradisi, ilmu logika dan Tafsir Qur’an. Beliau mampu memberikan penjelasan hukum tentang masalah-masalah Islam secara luas. Beliau juga mampu berbicara bagi orang-orang dari segala tingkatan spiritual. Beliau di beri kemampuan untuk menjelaskan masalah-masalah yang sulit dalam bahasa yang jelas dan mudah.

Setelah tamat SMA di Siprus, syaikh Nazim pindah ke Istambul pada tahun 1359 H / 1940, dimana kedua saudara laki-laki dan seorang saudara perempuannya tinggal. Beliau belajar tehnik kimia di Universitas Istambul, di daerah Bayazid. Pada saat yang sama beliau memperdalam hukum Islam dan bahasa Arab pada guru beliau, syaikh Jamaluddin al-Lasuni, yang meninggal pada th 1375 H / 1955 M. Shaykh Nazim meraih gelar sarjana pada tehnik kimia dengan hasil memuaskan dibanding teman-temannya. Ketika Professor di universitasnya memberi saran agar melakukan penelitian, beliau katakan,” Saya tidak tertarik dengan ilmu modern. Hati saya selalu tertarik pada ilmu-ilmu spiritual.”

Selama tahun pertama di Istambul, beliau bertemu dengan guru spiritual pertamanya, Shaykh Sulayman Arzurumi, seorang syaikh dari thariqat Naqsybandi yang meninggal pada th. 1368 H / 1948 M. Sambil kuliah syaikh Nazim belajar pada beliau sebagai tambahan dari ilmu thariqat yang telah dimilikinya yaitu Mawlawiyyah dan Qadiriah. Biasanya beliau akanterlihat di masjid sultan Ahmad, bertafakur sepanjang malam. Syaikh Nazim menuturkan :

“Disana aku menerima barakah dan kedamaian hati yang luar biasa. Aku shalat subuh bersama kedua guruku, Shaykh Sulayman Arzurumi dan shaykh Jamaluddin al-Lasuni. Mereka mengajariku dan meletakkan ilmu spiritual dalam hatiku. Aku mendapat banyak penglihatan spiritual agar pergi menuju Damaskus, tapi hal itu belum diizinkan. Sering aku melihat Nabi Muhammad memanggilku menuju ke hadapannya. Ada hasrat yang mendalam agar aku meninggalkan segalanya dan untuk pindah menujukota suci Nabi.

Suatu hari ketika hasrat hati ini semakin kuat, aku diberi “penglihatan” itu. Guruku , Shaykh Sulayman Arzurumi datang dan menepuk pundakku sambil mengatakan,’Sekarang sudah turun izin. Rahasia-rahasia, amanat, dan ajaran spiritualmu bukan ada padaku. Aku menahanmu karena amanat sampai engkau siap bertemu dengan guru sejatimu yang juga guruku sendiri yaitu Syaikh Abdullah ad-Daghestani.Beliau pemegang kunci-kuncimu. Temui beliau di Damaskus. Izin ini datang dariku dan berasal dari Nabi.’ ( Shaykh Sulayman Arzurumi adalah salah satu dari 313 awliya thariqat Naqsybandi yang mewakili 313 utusan. )

Bayangan itupun berakhir. Aku mencari guruku untuk menceritakan pengalaman itu. Dua jam kemudian aku melihat syaikh menuju masjid, aku berlari menghampirinya. Beliau membuka kedua tangannya dan berkata,

” Anakku, bahagiakah engkau dengan penglihatan itu ?” Aku sadar bahwa beliau juga telah mengetahui segalanya. “Jangan tunggu lagi, segera berangkat ke Damaskus.” Beliau bahkan tidak memberiku alamat atau informasi lain, kecuali sebuah nama : Syaikh Abdullah ad-Daghestani di Damaskus.

Dari Istambul ke Aleppo aku naik kereta. Selama perjalanan aku masuk dari satu masjid ke masjid lain, shalat, duduk dengan para ulama dan menghabiskan waktu untuk ibadah dan tafakur.

Kemudian aku menuju Hama, kota kuno mirip Aleppo.Aku berusaha untuk langsung menuju Damaskus, namun mustahil. Perancis yang saat itu menduduki Damaskus sedang mempersiapkan diri akan serangan pihak Inggris. Jadi aku pergi ke Homs dimana ada makam Khalid bin walid, sahabat Nabi. Ketika aku memasuki masjid untuk shalat, seorang pelayan mendatangiku dan mengatakan :

‘ Aku bermimpi tadi malam, Nabi mendatangiku. Beliau mengatakan : “Salah satu cucuku akan datang esok hari. Jagalah dia demi aku.” Beliau memberi petunjuk bagaimana ciri-ciri cucu beliau yang sekarang aku lihat semuanya ada pada dirimu.’

Dia memberiku sebuah kamar didalam masjid itu dimana aku menetap selama setahun. Aku tidak pernah keluar kecuali untuk shalat dan duduk ditemani 2 ulama Homs yang mumpuni, mereka mengajar bacaan Al-Qur’an, tafsir, fiqih dan tradisi-tradisi Islam. Mereka adalah Shaykh Muhammad Ali Uyun as-Sud dan shaykh Abdul Aziz Uyun as-Sud.Disana, aku juga mengikuti pelajaran-pelajaran dari dua syaikh Naqsybandi, Shaykh Abdul Jalil Murad dan Shaykh Said as-Suba’i. Hatiku semakin menggebu untuk segera tiba di Damaskus, namun karena perang masih berkecamuk maka kuputuskan untuk menuju Tripoli di Lebanon, dari sana menuju Beirut lalu ke Damaskus lewat jalur yang lebih aman.

Pada tahun 1364 AH / 1944 M, Syaikh Nazim pergi keTripoli dengan bis. Bis ini membawa beliau sampai ke pelabuhan yang masih asing, dan tidak seorangpun dikenalnya. Ketika berjalan mengelilingi pelabuhan, beliau melihat seseorang dari arah berlawanan. Orang itu adalah Mufti Tripoli yang bernama Shaykh Munir al-Malek. Beliau juga merupakan shaykh atas semua thariqat sufi di kota itu.

“ Apakah kamu shaykh Nazim ? aku bermimpi dimana Nabi mengatakan, ‘Salah satu cucuku tiba di Tripoli.’Beliau tunjukkan gambaran sosokmu dan menyuruhku mencarimu di kawasan ini. Nabi menyuruhku agar menjagamu. “


Syaikh Nazim memaparkan hal ini :

Aku tinggal dengan syaikh Munir al-Malek selama sebulan. Beliau mengatur perjalananku menuju Homsuntuk kemudian dilanjutkan ke Damaskus. Aku tiba di Damaskus pada hari Jum’at th. 1365 H / 1945 awal tahun Hijriah. Aku tahu bahwa Syaikh Abdullah ad-Daghestani tinggal di wilayah Hayy al-Maidan, dekat dengan makam Bilal al-Habashi dan banyak keturunan dari keluarga Nabi. Sebuah daerah kuno yang penuh dengan monumen-monumen bersejarah.

ImageAkupun tidak tahu yang mana rumah syaikh Abdullah. Sebuah penglihatan datang ketika aku berdiri di pinggir jalan; syaikh keluar dari rumahnya dan memanggilku untuk masuk. Penglihatan itu segera lenyap, dan tetap tak kulihat siapapun di jalanan. Keadaan tampak senyap akibat invasi orang-orang Perancis dan Inggris. Penduduk ketakutan dan bersembunyi didalam rumah masing-masing. Aku sendirian dan mulai berkontemplasi didalam hati untuk mengetahui yang mana rumah syaikh Abdullah.Sekilas gambaran itu muncul, sebuah rumah dengan sebuah pintu yang spesifik. Aku berusaha mencari sampai akhirnya ketemu. Ketika akan kuketuk, syaikh membuka pintu rumah menyambutku, ” Selamat datang anakku, Nazim Effendi.”

Muhammad Baha’uddin Syah Naqshbandi qs

Kidung subuh sang merpati hutan, haru sendu membirukan
Air mataku membangun lelapnya,
tidurku pun tergugah tangisnya
Tak saling kami mengerti, tatkala saling mengeluhkan
dan dukaku pun telah dipahaminya
(Abul-Hasan an-Nuri)


Syah Naqshband qs adalah Samudra Ilmu yang tak bertepi. Ombaknya dianyam oleh mutiara Ilmu Ilahi. Beliau menjernihkan kemanusiaan dengan Samudra Kemurnian dan Kesalehan. Beliau melepaskan dahaga jiwa dengan air yang berasal dari dukungan spiritualnya. Seisi dunia, termasuk samudra dan benua, berada dalam genggamannya. Beliau adalah bintang yang berhiaskan Mahkota Petunjuk. Beliau mensucikan seluruh jiwa manusia tanpa kecuali dengan nafas sucinya.

Beliau menghiasi bahkan setiap sudut yang sulit terjangkau dengan rahasia dari Muhammadun Rasul-Allah sallallahu alayhi wassalam. Cahayanya menembus setiap lapisan ketidakpedulian.

Keluarbiasaannya melahirkan bukti terhempasnya asa tertepis dari keraguan hati kemanusiaan. Keajaibannya yang penuh kekuatan membawa kehidupan kembali ke dalam hati setelah kematiannya dan menyiapkan jiwa-jiwa dengan perbekalan mereka bagi kehidupan spiritual di masa mendatang. Beliau terpelihara di Maqam Busur Perantara tatkala beliau masih dalam buaian.

Beliau menghisap nectar ilmu ghaib secara terus-menerus dari Cangkir Makrifat (Realitas). Jika Muhammad saw bukanlah Rasul yang terakhir, mungkin beliau akan menjadi Rasul. Segala Puji bagi Allah swt yang telah mengirimkan seorang mujaddid (yang menghidupkan agama Islam). Beliau mengangkat hati manusia, menyebabkan mereka mengangkasa ke langit spiritual. Beliau membuat raja-raja berdiri di pintunya.

Beliau menyebarkan petunjuknya dari Utara hingga Selatan, dan dari Timur ke Barat. Beliau tidak meninggalkan seorang pun tanpa dukungan surgawi, termasuk binatang-binatang liar di rimba raya. Beliau adalah Ghawts teragung, Busur Perantara, Sultannya para Awliya, Kalung bagi seluruh mutiara spiritual yang dipersembahkan di alam semesta ini oleh Hadirat Ilahi. Dengan cahaya petunjuknya, Allah membuat yang baik menjadi yang terbaik, dan mengubah yang jahat menjadi baik.

Beliau adalah Guru dari thariqat ini dan Syaikh dari Matarantai Emas serta merupakan pembawa alur Khwajagan yang terbaik.

Beliau dilahirkan di bulan Muharaam pada tahun 717 H/1317 M, di desa Qasr al-‘Arifan, dekat Bukhara. Allah menganugerahkannya kekuatan-kekuatan ajaib di masa kecilnya. Beliau telah diajari rahasia thariqat ini oleh guru pertamanya, Sayyid Muhammad Baba As-Samasi qs. Kemudian beliau diberikan rahasia dan kemampuan dari thariqat ini oleh Syaikhnya, Sayyid Amir al-Kulal qs. Beliau juga merupakan Uwaysi dalam hubungannya dengan Rasulullah saw, karena beliau dibesarkan dalam hadirat spiritual Abdul Khaliq al-Ghujdawani qs, yang telah mendahuluinya selama 200 tahun.



Awal Mula dari Bimbingannya dan Bimbingan Dari Awal Mulanya

Syah Naqsyband qs berumur delapan belas tahun ketika beliau dikirim kakeknya ke kampung Samas untuk melayani Syaikh thariqat, Muhammad Baba as-Samasi qs, yang telah memintanya. Dari awal persahabatannya dengan Syaikh tersebut, Beliau melihat anugerah yang tak terhitung di dalam dirinya, dan kebutuhan yang amat sangat akan kesucian dan ibadah. Dari masa mudanya, beliau bercerita,

Aku akan bangun lebih awal, tiga jam sebelum shalat Fajar, berwudhu, dan setelah melaksanakan shalat sunnah, Aku akan bersujud, memohon pada Tuhan dengan do’a berikut, ‘Wahai Tuhanku, berilah hamba kekuatan untuk menjalankan kesulitan –kesulitan dan rasa sakit dari Cinta-Mu.’ Lalu Aku akan shalat Fajar bersama dengan Syaikh.

Ketika beliau keluar, suatu hari beliau melihat ke arahku dan berkata, seolah-olah beliau telah bersamaku ketika Aku berdo’a tadi, ‘Wahai anakku, kau harus mengubah cara berdo’amu. Daripada berkata, ‘Ya Allah swt! Anugerahkanlah ridha-Mu pada hamba yang lemah ini.’ Tuhan tidak senang hamba-Nya berada dalam kesulitan. Walau Tuhan dalam Kearifan-Nya mungkin memberikan kesulitan pada hamba-Nya untuk mengujinya, sang hamba tak boleh meminta untuk berada dalam kesulitan. Hal ini berarti tidak menghormati Tuhanmu.’

Ketika Syaikh Muhammad Baba as-Samasi qs wafat, kakekku membawaku ke Bukhara dan Aku menikah di sana. Aku tinggal di Qasr al-‘Arifan, yang merupakan pemeliharaan yang khusus dari Allah swt bagiku, karena Aku menjadi dekat dengan Sayyid Amir Kulal qs. Aku tinggal dan melayaninya, dan beliau mengatakan padaku bahwa Syaikh Muhammad Baba as-Samasi qs telah berkata jauh hari sebelumnya bahwa, ‘Aku tak akan senang denganmu bila engkau tidak memeliharanya dengan baik.’

Suatu hari, Aku duduk bersama seorang teman, dalam pengasingan (khlwat), tiba-tiba langit terbuka dan suatu pemandangan yang agung datang padaku dan Aku mendengar sebuah suara yang berkata, ‘Tidaklah cukup bagimu meninggalkan setiap orang dan datang ke Hadirat Kami sendirian saja?’ Suara ini membuatku gemetar dan lari dari rumah itu. Aku berlari ke sebuah sungai di mana Aku lalu menyeburkan diri.

Aku mencuci pakaianku lalu shalat dua rakaat dengan cara yang belum pernah Aku lakukan sebelumnya, Aku merasa seolah-olah sedang shalat dalam Hadirat-Nya. Segalanya begitu terbuka ke dalam hatiku dalam bentuk tanpa sekat (kashf). Seluruh semesta lenyap dan Aku tak menghiraukan apa pun kecuali berdo’a ke Hadirat-Nya.

Di awal keadaan ketertarikanku, Aku pernah ditanya, ‘Mengapa engkau ingin memasuki Jalan ini?’ Aku menjawab, ‘Agar apa pun yang Aku katakan dan Aku kehendaki akan terjadi.’ Aku dijawab, ‘Itu mustahil. Apa pun yang Kami katakan dan apa pun yang kami kehendaki, itulah yang akan terjadi.’

Dan aku berkata, ‘Aku tak bisa melakukan hal itu. Aku harus diizinkan untuk berkata dan untuk melakukan apapun yang Aku suka, atau, Aku tak menginginkan Jalan ini.’ Lalu Aku menerima jawabannya, ‘Tidak bisa. Apapun yang Kami kehendaki untuk dikatakan dan apapun yang Kami kehendaki untuk terjadi pastilah terucapkan dan terjadi.’ Lalu Aku berkata lagi ‘ Apa pun yang Aku katakan dan apa pun yang Aku kerjakan itulah yang pasti terjadi.’

Dan Aku berkata, ‘Aku tak bisa melakukan hal itu. Aku harus diizinkan untuk berkata dan untuk melakukan apapun yang Aku suka, atau, Aku tak menginginkan Jalan ini.’ Lalu Aku menerima jawabannya, ‘Tidak bisa. Apapun yang Kami kehendaki untuk dikatakan dan apapun yang Kami kehendaki untuk terjadi pastilah terucapkan dan terjadi.’ Lalu Aku berkata lagi ‘ Apa pun yang Aku katakan dan apa pun yang Aku kerjakan itulah yang pasti terjadi.’

Kemudian Aku pun ditinggalkan sendirian selama lima belas hari, hingga Aku menderita depresi yang luar biasa. Kemudian Aku mendengar sebuah suara, ‘Wahai Baha’uddin qs, apapun yang kau inginkan, akan Kami kabulkan.’ Aku amat bergembira. Aku berkata, ‘Aku ingin diberi sebuah thariqat yang akan memimpin siapa pun yang berjalan di atasnya akan langsung menuju ke Hadirat Illahi.’ Dan Aku melihat suatu pemandangan yang agung dan sebuah suara berkata, ‘Apa yang kau minta, telah dikabulkan.’



Kemajuan dan Perjuangannya dalam Thariqat

Syah Naqshband qs menyatakan, “Suatu saat Aku sedang mengalami ekstase dan tanpa akal pikiran (tidak sadar), berpindah dari sini ke sana, tak menyadari apa yang tengah kulakukan. Kakiku robek dan berdarah karena duri pada saat gelap. Aku merasa diriku diarik ke rumah Syaikhku, Sayyid Amir Kulal qs.

Saat itu malam sungguh gelap tanpa bulan dan bintang. Udara amat dingin dan Aku tak memiliki apapun kecuali sebuah jubah kulit yang sudah usang. Ketika Aku tiba di rumahnya, Aku menemukan beliau sedang duduk bersama para sahabatnya.

Ketika beliau melihatku, beliau berkata kepada para pengikutnya, ‘Bawa dia keluar, Aku tak menginginkan dia berada di rumahku.’ Mereka lalu mengeluarkan aku dan Aku merasakan ego berusaha menguasaiku, mencoba meracuni kepercayaanku kepada Syaikhku. Pada saat itu hanya Perlindungan Allah swt dan Rahmat-Nya-lah satu-satunya pendukungku dalam menerima penghinaan ini Demi Allah swt dan demi Syaikhku.

Lalu aku berkata pada egoku, ‘Aku tak memperkenankanmu untuk meracuni kepercayaanku terhadap Syaikhku. ‘Aku begitu lelah dan tertekan sehingga Aku merendahkan hati di depan pintu kesombongan, meletakkan kepalaku di bawah pintu rumah guruku, dan bersumpah dengan Nama Allah bahwa Aku tak akan pindah sampai beliau menerimaku kembali. Salju mulai turun dan udara yang begitu dingin menembus tulangku, membuatku gemetar dalam gelapnya malam. Bahkan cahaya rembulan pun tak ada untuk sedikit membuatku merasa nyaman.

Aku ingat keadaan tersebut, hingga Aku membeku. Namun cinta akan pintu Ilahi Syaikhku yang ada dalam hatiku, membuatku tetap hangat. Subuh pun datang dan Syaikhku keluar dari pintu tanpa melihatku secara fisik. Beliau mengajak kepalaku, yang masih berada di bawah pintunya. Merasakan adanya kepalaku, dengan segera beliau menarik kakinya, membawaku ke dalam rumahnya dan berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, kau telah dihiasi dengan pakaian kebahagiaan. Kau telah dihiasi dengan pakaian Cinta Ilahi. Kau telah dihiasi dengan pakaian yang tidak pernah Aku dan Syaikhku kenakan.

Allah swt senang denganmu, Rasulullah saw senang denganmu, semua Syaikh dari Matarantai Emas senang denganmu.’ Kemudian dengan telaten dan sangat hati-hati beliau mencabuti duri-duri dari kakiku dan membasuh lukaku. Pada saat yang sama beliau menuangkan ilmu pada hatiku yang tak pernah Aku alami sebelumnya. Hal ini membukakan suatu pandangan di mana Aku melihat diriku memasuki rahasia Muhammadun Rasul-Allah saw. Aku melihat diriku melalui rahasia ayat yang merupakan Haqiqa Muhammadiyya (Realitas Muhammad saw).

Hal ini mengantarkanku aku untuk memasuki rahasia dari LA ILAHA ILLALLAH yang merupakan rahasia dari wahdaniyyah (Keunikan Allah). Hal ini lalu mengantar aku untuk memasuki rahasia Asma’ Allah dan Atribut-Nya yang dinyatakan dengan rahasia ahadiyya (Ke-Esa-an Allah). Keadaan-keadaan tersebut tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya dapat diketahui lewat rasa di dalam hati.

Di awal perjalananku di thariqat ini, Aku biasa berkeliaran di malam hari dari satu tempat ke tempat lainnya di pinggiran kota Bukhara. Sendirian di gelapnya malam, khususnya di musim dingin, Aku mengunjungi pemakaman untuk memetik pelajaran dari yang telah meninggal. Suatu malam Aku dibimbing untuk mengunjungi nisan Syaikh Ahmad al-Ajgharawa qs dan membacakan al-Fatihah baginya.

Ketika Aku tiba, Aku menemukan dua orang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Mereka menungguku dengan seekor kuda. Mereka menaikkan aku ke atas kuda dan mengikatkan dua bilah padang di sabukku. Ketika kami tiba, kami semua turun dan memasuki makam dan masjid Syaikh tersebut. Aku duduk menghadap qiblat, tafakur, dan menghubungkan hatiku dengan hati Syaikh itu.

Selama proses meditasi tersebut sebuah pandangan terbuka padaku dan Aku melihat dinding yang menghadap qiblat tiba-tiba runtuh. Sebuah singgasana raksasa muncul. Seseorang yang tinggi besar dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata sedang duduk di singgasana itu. Aku merasa mengenalnya. Kemanapun Aku palingkan wajah di semesta ini yang kulihat adalah orang itu. Di sekelilingnya terdapat kerumunan besar yang terdiri dari Syaikh-Syaikhku, Syaikh Muhammad Baba as-Samasi qs dan Sayyid Amir Kulal qs.

Kemudian Aku merasa takut dengan orang yang tinggi besar itu sementara pada saat yang bersamaan Aku juga merasakan cinta terhadapnya. Aku memiliki ketakutan akan kehadirannya yang makin besar dan cinta kasih akan kecantikan dan pengaruhnya. Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Siapa gerangan manusia agung ini?” Aku mendengar sebuah suara di antara orang-orang di kerumunan itu berkata. ‘Orang agung yang membesarkanmu di jalan spiritualmu ini adalah Syaikhmu. Dia melihat jiwamu manakala masih berupa atom di Hadirat Illahi.

Kau telah berada dalam pelatihannya selama ini. Dialah Syaikh Abdul Khaliq al-Ghujdawani qs dan kerumunan yang sedang kau lihat itu adalah khalifah yang membawa rahasia agungnya, rahasia Matarantai Emas.’ Kemudian Syaikh tersebut mulai menunjuk kepada masing-masing Syaikh seraya berkata, ‘Yang ini Syaikh Ahmad qs, ini Kabir al-Awliya qs, ini ‘Arif Riwakri qs, ini Syaikh Ali Ramitani qs, yang ini Syaikhmu, Muhammad Baba as-Samasi qs, yang semasa hidupnya memberikan jubahnya untukmu. Apakah kau mengenalnya?” ‘Ya’, kataku.

Kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Jubah itu, yang dia berikan kepadamu beberapa saat silam sekarang masih ada di rumahmu, dan dengan berkata Allah telah menyembuhkan banyak penderitaan dalam hidupmu.’ Lalu suara lain datang dan berkata, Syaikh yang berada di singgasana itu akan mengajarimu sesuatu yang kau perlukan selama berjalan lewat jalan ini.’ Aku bertanya apakah mereka akan mengizinkan Aku untuk bersalaman dengannya. Mereka mengizinkannya dan membuka hijab-nya (sekat) dan aku pun mengambil tangannya. Kemudian beliau mengambil tangannya. Kemudian beliau mulai menceritakan tentang suluk (perjalanan), awal, pertengahan dan akhirnya.

Beliau berkata, ‘Kau harus membenahi sumbu yang ada dalam dirimu sehingga cahaya dari yang tak terlihat dapat dikuatkan dalam dirimu dan rahasia-rahasianya dapat terlihat. Kau harus memperlihatkan ketetapanmu dan kau harus kukuh dalam syari’ah Rasulullah saw dalam setiap keadaanmu. Kau harus “menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar” (QS 3:110, 114) dan tetap pada standar tertinggi dari syari’ah dan meninggalkan kemudahan-kemudahan, dan menyingkirkan penemuan baru dalam segala bentuknya (bid’ah), dan buatlah al-Hadits sebagai qiblatmu.

Kau harus menyelidiki kehidupannya (sirah) dan sirah para sahabatnya, dan membuat orang untuk mengikuti dan membaca al-Qur’an baik siang maupun malam, serta melaksanakan shalat dengan segala ibadah tambahannya (nawafil). Jangan abaikan hal sekecil apapun dari kebaikan dan perbuatan-perbuatan mulia yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw.’

Begitu Abdul Khaliq qs selesai, khalifahnya berkata padaku, ‘Agar yakin akan kebenaran pandangan ini, beliau mengirimkan suatu tanda bagimu. Besok, pergi dan kunjungilah Maulana Syamsuddun al-Ambikuti qs, yang akan menghakimi dua orang. Katakan padanya, ‘Kau mencoba membantu si Saqqa, namun kau salah. Perbaikilah dirimu dan bantulah si Turki.’ Bila si Saqqa menyangkal apa yang kau ketakan, dan si hakim terus membela si Saqqa, katakan padanya, ‘Aku memiliki dua bukti. Yang pertama harus bilang pada si Saqqa, ‘Wahai Saqqa, engkau sedang dahaga.’ Dia akan mengerti apa arti dahaga itu.

Sebagai bukti kedua, kau harus bilang kepada si Saqqa, ‘Kau telah meniduri seorang wanita dan dia menjadi hamil, dan kau telah memiliki bayi yang telah digugurkan, dan kau kuburkan bayi itu di bawah pohon pinus.’ Dalam perjalananmu menuju Maulana Syamsuddin qs, bawalah tiga butir kismis dan lewati Syaikhmu, Sayyid Amir al-Kulal qs. Dalam perjalananmu menuju beliau kau akan bertemu dengan seorang Syaikh yang akan memberimu sebantal roti. Ambillah rotinya dan jangan bicara sepatah kata pun dengan Syaikh tersebut.

Lanjutkan hingga kau menemukan sebuah caravan. Seorang petarung akan mendekatimu. Nasihati dan dekati dia kembali. Dia akan menyesal dan akan menjadi salah seorang pengikutmu, Kenakan topimu dan bawa jubah Azizan kepada  Sayyid Amir Kulal qs.’

Setelah itu mereka memindahkan aku dan pandangan itu pun berakhir. Aku kembali pada diriku sendiri. Hari berikutnya Aku pulang ke rumahku dan bertanya kepada keluargaku tentang jubah yang telah disebutkan dalam pandangan itu. Mereka membawanya ke hadapan ku dan berkata, ‘Ini telah ada di sana sejak lama sekali.’ Ketika melihat jubah itu keharuan yang mendalam melandaku. Aku mengambil jubah itu dan pergi ke desa Ambikata, di pinggiran Bukhara, menuju masjid Maulana Syamsuddin qs.

Lalu aku mengajak orang-orang yang berada di masjid itu untuk pergi ke pohon pinus yang ada di dekat masjid. Mereka menurut dan menemukan seorang anak terkubur di sana. Si Saqqa lalu datang dan menangis serta memohon maaf atas apa yang telah dia perbuat, namun semuanya telah berakhir. Maulana Syamsuddin qs dan orang lain yang berada di masjid itu benar-benar terkejut.