Label

Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi dan Awliya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi dan Awliya. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2015

DETIK-DETIK KEPERGIAN ROSULULLOH SAW

Bismillahirrahmaanirrahiim

Pagi itu Rasululloh dengan suara terbata-bata berkutbah, " Wahai umat ku. kita semua dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih_Nya, maka taat dan bertaqwala kepada_Nya. Ku wariskan dua perkara kepada kalian, Al Qur'an dan Sunnahku. Siapa yang mencintai Sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk surga bersama-sama aku"

Kutbah singkat itu di akhiri dengan pandangan mata rasululloh yang tenang dan penuh minat menatap satu persatu sahabatnya. Abu bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang. Ali menundukkan kepala.

Isyarat telah datang, saatnya telah tiba, " Rasululloh akan meninggalkan kita semua" keluh hati sahabat. Manusia tercinta itu, hampi selesai tunaikan tugasnya. Tanda-tanda itu makin kuat. Ali dengan cekatan memeluk rasululloh yang lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah rasululloh masih tertutup. Di dalamnya rasul terbaring lemah dengan kening berkeringat membasahi pelepah kurma alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar salam, "bolehkah saya masuk?'
tanyanya.

Fatimah tak mengijinkan masuk. "Maafkan ayahku sedang demam."

Ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya, "siapakah itu wahai anakku" "Tak taulah ayahku, sepertinya baru kali ini aku melihatnya" tutur Fatimah lembut.

Rasul menatap putrinya dengan pandangan yang mengetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah putrinya hendak di kenangnya.

Asy Syarif Abul Hasan Ali asy Syadzily

Asy Syekh al Imam al Quthub al Ghouts Sayyidina Asy Syarif Abul Hasan Ali asy Syadzily al Hasani bin Abdullah bin Abdul Jabbar, terlahir dari rahim sang ibu di sebuah desa bernama Ghomaroh, tidak jauh dari kota Saptah, negeri Maghrib al Aqsho atau Marokko, Afrika Utara bagian ujung paling barat, pada tahun 593 H / 1197 M. Beliau merupakan dzurriyat atau keturunan ke dua puluh dua dari junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, dengan urut-urutan sebagai berikut, asy Syekh Abil Hasan Ali asy Syadzily adalah putra dari :

1. Abdullah, bin
2. Abdul Jabbar, bin
3. Tamim, bin
4. Hurmuz, bin
5. Khotim, bin
6. Qushoyyi, bin
7. Yusuf, bin
8. Yusa', bin
9. Wardi, bin
10. Abu Baththal, bin
11. Ali, bin
12. Ahmad, bin
13. Muhammad, bin
14. 'Isa, bin
15. Idris al Mutsanna, bin
16. Umar, bin
17. Idris, bin
18. Abdullah, bin
19. Hasan al Mutsanna, bin
20. Sayyidina Hasan, bin
21. Sayyidina Ali bin Abu Thalib wa Sayyidatina Fathimah az Zahro' binti
22. Sayyidina wa habibina wa syafi'ina Muhammadin, rosulillaahi shollolloohu 'alaihi wa aalihi sallam.


Sejak kecil Beliau biasa dipanggil dengan nama: 'ALI, sudah dikenal sebagai orang yang memiliki akhlaq atau budi pekerti yang amat mulia. Tutur katanya sangat fasih, halus, indah dan santun, serta mengandung makna pengertian yang dalam. Di samping memiliki cita-cita yang tinggi dan luhur, Beliau juga tergolong orang yang memiliki kegemaran menuntut ilmu. Di desa tempat kelahirannya ini, Beliau mendapat tempaan pendidikan akhlaq serta cabang ilmu-ilmu agama lainnya langsung di bawah bimbingan ayah-bunda beliau. Beliau tinggal di desa tempat kelahirannya ini sampai usia 6 tahun, yang kemudian pada akhirnya hijrah ke kota Tunis (sekarang ibu kota negara Tunisia, Afrika Utara) yang semata-mata hanya untuk tujuan tholabul 'ilmi di samping untuk menggapai cita-cita luhur Beliau menjadi orang yang memiliki kedekatan dan derajat kemuliaan di sisi Allah SWT.
Beliau sampai di kota Tunis, sebuah kota pelabuhan yang terletak di tepi pantai Laut Tengah, pada tahun 599 H / 1202 M. Di suatu hari Jumat, Beliau pernah ditemui oleh Nabiyyullah Khidlir 'alaihissalam, yang mengatakan bahwa kedatangannya pada saat itu adalah diutus untuk menyampaikan keputusan Allah SWT atas diri Beliau yang pada hari itu telah dinyatakan dipilih menjadi kekasih Robbul 'Alamin dan sekaligus diangkat sebagai Wali Agung dikarenakan Beliau memiliki budi luhur dan akhlaq mulia.
Segera setelah pertemuan dengan Nabiyyullah Khidir a.s. tersebut, Beliau segera menghadap Syekh Abi Said al Baji, rokhimahullah, salah seorang ulama besar di Tunis pada waktu itu, dengan maksud untuk mengemukakan segala peristiwa yang Beliau alami sepanjang hari itu. Akan tetapi pada saat sudah berada di hadapan Syekh Abi Said, sebelum Beliau mengungkapkan apa yang menjadi maksud dan tujuannya menghadap, ternyata Syekh Abi Said al Baji sudah terlebih dahulu dengan jelas dan runtut menguraikan tentang seluruh perjalanan Beliau sejak keberangkatannya dari rumah sampai diangkat dan ditetapkannya Beliau sebagai Wali Agung pada hari itu. Sejak saat itu Beliau tinggal bersama Syekh Abi Said sampai beberapa tahun guna menimba berbagai cabang ilmu agama. Dari Syekh Abi Said Beliau banyak belajar ilmu-ilmu tentang Al Qur'an, hadits, fiqih, akhlaq, tauhid, beserta ilmu-ilmu alat. Selain itu, karena kedekatan Beliau dengan sang guru, Beliau juga berkesempatan mendampingi Syekh Abi Said menunaikan ibadah haji ke Mekkah al Mukarromah sampai beberapa kali. Namun, setelah sekian tahun menuntut ilmu, Beliau merasa bahwa seluruh ilmu yang dimilikinya, mulai dari ilmu fiqih, tasawwuf, taukhid, sampai ilmu-ilmu tentang al Qur'an dan hadist, semuanya itu Beliau rasakan masih pada tataran syariat atau kulitnya saja. Karena itu Beliau berketetapan hati untuk segera menemukan jalan (thoriqot) itu sekaligus pembimbing (mursyid)-nya dari seorang Wali Quthub yang memiliki kewenangan untuk memandu perjalanan ruhaniyah Beliau menuju ke hadirat Allah SWT ? Maka dengan tekad yang kuat Beliau memberanikan diri untuk berpamitan sekaligus memohon doa restu kepada sang guru, syekh Abi Said al Baji, untuk pergi merantau demi mencari seseorang yang berkedudukan sebagai Quthub.


Perantauan Mencari Sang Quthub

Tempat pertama yang dituju oleh Beliau adalah kota Mekkah yang merupakan pusat peradaban Islam dan tempat berhimpunnya para ulama dan sholihin yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk memperdalam berbagai cabang ilmu-ilmu agama. Namun setelah berbulan-bulan tinggal di Mekkah, Beliau belum juga berhasil menemukan orang yang dimaksud. Sampai akhirnya pada suatu seat Beliau memperoleh keterangan dari beberapa ulama di Mekkah bahwa Sang Quthub yang Beliau cari itu kemungkinan ada di negeri Iraq yang berjarak ratusan kilo meter dari kota Mekkah.
Sesampainya di Iraq, dengan tidak membuang-buang waktu, segeralah Beliau bertanya ke sana-sini tentang seorang Wali Quthub yang Beliau cari kepada setiap ulama dan masyayikh yang berhasil Beliau temui. Akan tetapi, mereka semua rata-rata menyatakan tidak mengetahui keberadaan seorang Wali Quthub di negeri itu.
Memang sepeninggal Sulthonil Auliya'il Quthbir Robbani wal Ghoutsish Shomadani Sayyidisy Syekh Abu Muhammad Abdul Qodir al Jilani, rodliyallahu 'anh, kedudukan Wali Quthub yang menggantikan Syekh Abdul Qodir Jilani oleh Allah disamarkan atau tidak dinampakkan dengan jelas. Pada waktu kedatangan Syekh Abil Hasan ke Baghdad itu, Syekh Abdul Qodir Jailani (470 - 561 H./1077 - 1166 M.) sudah wafat sekitar 50 tahun sebelumnya (selisih waktu antara wafatnya Syekh Abdul Qodir dan lahirnya Syekh Abil Hasan terpaut sekitar 32 tahun). Di kala hidupnya, asy Syekh. Abdul Qodir diakui oleh para ulama minash Shiddiqin sebagai seorang yang berkedudukan "Quthbul Ghouts".
Akhirnya, Beliau mendengar adanya seorang ulama yang merupakan seorang pemimpin dan khalifah thoriqot Rifa'iyah yaitu asy Syekh ash Sholih Abul Fatah al Wasithi, rodliyAllahu 'anh. Syekh Abul Fatah adalah, yang memiliki pengaruh dan pengikut cukup besar di Iraq pada waktu itu. Segeralah Beliau sowan kepada Syekh Abul Fatah dan mengemukakan bahwa Beliau sedang mencari seorang Wali Quthub yang akan Beliau minta kesediaannya untuk menjadi pembimbing dan pemandu perjalanan ruhani Beliau menuju ke hadirat Allah SWT.
Mendengar penuturan beliau, asy Syekh Abul Fatah sembari tersenyum kemudian mengatakan, "Wahai anak muda, engkau mencari Quthub jauh jauh sampai ke sini, padahal orang yang engkau cari sebenarnya berada di negeri asalmu sendiri. Beliau adalah seorang Quthubuz Zaman nan Agung pada saat ini. Sekarang pulanglah engkau ke Maghrib (Maroko) dari pada bersusah payah berkeliling mencari di negeri ini. Beliau, pada saat ini sedang berada di tempat khalwatnya, di sebuah gua di puncak gunung. Temuilah yang engkau cari di sana!"

Perjalanan Spiritual Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani

Dari buku : The Naqshbandi Sufi Way, History
Oleh : Syaikh Muhammad Hisham Kabbani, 1995


Beliau dilahirkan di Larnaca, Siprus, pada hari Minggu, tanggal 23 April 1922 – atau 26 Shaban 1340 H. Dari sisi ayah, beliau adalah keturunan Abdul Qadir Jailani, pendiri thariqat Qadiriah. Dari sisi ibunya, beliau adalah keturunan Jalaluddin Rumi, pendiri thariqat Mawlawiyyah, yang juga merupakan keturunan Hassan-Hussein (as ) cucu Nabi Muhammad saw. Selama masa kanak-kanak di Siprus, beliau selalu duduk bersama kakeknya, salah seorang syaikh thariqat Qadiriah untuk belajar spiritualitas dan disiplin. Tanda-tanda luar biasa telah nampak pada syaikh Nazim kecil, tingkah lakunya sempurna. Tidak pernah berselisih dengan siapapun, beliau selalu tersenyum dan sabar. Kedua kakek dari pihak ayah dan ibunya melatih beliau pada jalan spiritual.
Ketika remaja, Shaykh Nazim sangat diperhitungkan karena tingkat spiritualnya yang tinggi. Setiap orang di Larnaca mengenal beliau, karena dengan umur yang masih amat muda mampu menasihati orang-orang, meramal masa depan dan dengan spontan membukanya. Sejak umur 5 tahun sering ibundanya mencarinya, dan didapati beliau sedang berada didalam masjid atau di makam Umm Hiram, salah satu sahabat Nabi Muhammad (saw) yang berada di sebelah masjid. Banyak sekali turis mendatangi makam tersebut karena tertarik akan pemandangan sebuah batu yang tergantung diatas makam itu.
Ketika sang ibu mengajaknya pulang, beliaumengatakan :
” Biarkan aku disini dengan Umm Hiram, beliau adalah leluhur kita.”
Biasanya terlihat syaikh Nazim sedang berbicara, mendengarkan dan menjawab seperti berdialog dengannya. Bila ada yang mengusiknya, beliaukatakan :
“ Biarkan aku berdialog dengan nenekku yang ada di makam ini.”

Ayahnya mengirim beliau ke sekolah umum pada siang hari dan sorenya belajar ilmu-ilmu agama. Beliau seorang yang jenius diantara teman-temannya.Setelah tamat sekolah ( setara SMU ) syaikh Nazim menghabiskan malam harinya untuk mempelajari thariqat Mawlawiyyah dan Qadiriah. Beliau mempelajari ilmu Shariah, Fiqih, ilmu tradisi, ilmu logika dan Tafsir Qur’an. Beliau mampu memberikan penjelasan hukum tentang masalah-masalah Islam secara luas. Beliau juga mampu berbicara bagi orang-orang dari segala tingkatan spiritual. Beliau di beri kemampuan untuk menjelaskan masalah-masalah yang sulit dalam bahasa yang jelas dan mudah.

Setelah tamat SMA di Siprus, syaikh Nazim pindah ke Istambul pada tahun 1359 H / 1940, dimana kedua saudara laki-laki dan seorang saudara perempuannya tinggal. Beliau belajar tehnik kimia di Universitas Istambul, di daerah Bayazid. Pada saat yang sama beliau memperdalam hukum Islam dan bahasa Arab pada guru beliau, syaikh Jamaluddin al-Lasuni, yang meninggal pada th 1375 H / 1955 M. Shaykh Nazim meraih gelar sarjana pada tehnik kimia dengan hasil memuaskan dibanding teman-temannya. Ketika Professor di universitasnya memberi saran agar melakukan penelitian, beliau katakan,” Saya tidak tertarik dengan ilmu modern. Hati saya selalu tertarik pada ilmu-ilmu spiritual.”

Selama tahun pertama di Istambul, beliau bertemu dengan guru spiritual pertamanya, Shaykh Sulayman Arzurumi, seorang syaikh dari thariqat Naqsybandi yang meninggal pada th. 1368 H / 1948 M. Sambil kuliah syaikh Nazim belajar pada beliau sebagai tambahan dari ilmu thariqat yang telah dimilikinya yaitu Mawlawiyyah dan Qadiriah. Biasanya beliau akanterlihat di masjid sultan Ahmad, bertafakur sepanjang malam. Syaikh Nazim menuturkan :

“Disana aku menerima barakah dan kedamaian hati yang luar biasa. Aku shalat subuh bersama kedua guruku, Shaykh Sulayman Arzurumi dan shaykh Jamaluddin al-Lasuni. Mereka mengajariku dan meletakkan ilmu spiritual dalam hatiku. Aku mendapat banyak penglihatan spiritual agar pergi menuju Damaskus, tapi hal itu belum diizinkan. Sering aku melihat Nabi Muhammad memanggilku menuju ke hadapannya. Ada hasrat yang mendalam agar aku meninggalkan segalanya dan untuk pindah menujukota suci Nabi.

Suatu hari ketika hasrat hati ini semakin kuat, aku diberi “penglihatan” itu. Guruku , Shaykh Sulayman Arzurumi datang dan menepuk pundakku sambil mengatakan,’Sekarang sudah turun izin. Rahasia-rahasia, amanat, dan ajaran spiritualmu bukan ada padaku. Aku menahanmu karena amanat sampai engkau siap bertemu dengan guru sejatimu yang juga guruku sendiri yaitu Syaikh Abdullah ad-Daghestani.Beliau pemegang kunci-kuncimu. Temui beliau di Damaskus. Izin ini datang dariku dan berasal dari Nabi.’ ( Shaykh Sulayman Arzurumi adalah salah satu dari 313 awliya thariqat Naqsybandi yang mewakili 313 utusan. )

Bayangan itupun berakhir. Aku mencari guruku untuk menceritakan pengalaman itu. Dua jam kemudian aku melihat syaikh menuju masjid, aku berlari menghampirinya. Beliau membuka kedua tangannya dan berkata,

” Anakku, bahagiakah engkau dengan penglihatan itu ?” Aku sadar bahwa beliau juga telah mengetahui segalanya. “Jangan tunggu lagi, segera berangkat ke Damaskus.” Beliau bahkan tidak memberiku alamat atau informasi lain, kecuali sebuah nama : Syaikh Abdullah ad-Daghestani di Damaskus.

Dari Istambul ke Aleppo aku naik kereta. Selama perjalanan aku masuk dari satu masjid ke masjid lain, shalat, duduk dengan para ulama dan menghabiskan waktu untuk ibadah dan tafakur.

Kemudian aku menuju Hama, kota kuno mirip Aleppo.Aku berusaha untuk langsung menuju Damaskus, namun mustahil. Perancis yang saat itu menduduki Damaskus sedang mempersiapkan diri akan serangan pihak Inggris. Jadi aku pergi ke Homs dimana ada makam Khalid bin walid, sahabat Nabi. Ketika aku memasuki masjid untuk shalat, seorang pelayan mendatangiku dan mengatakan :

‘ Aku bermimpi tadi malam, Nabi mendatangiku. Beliau mengatakan : “Salah satu cucuku akan datang esok hari. Jagalah dia demi aku.” Beliau memberi petunjuk bagaimana ciri-ciri cucu beliau yang sekarang aku lihat semuanya ada pada dirimu.’

Dia memberiku sebuah kamar didalam masjid itu dimana aku menetap selama setahun. Aku tidak pernah keluar kecuali untuk shalat dan duduk ditemani 2 ulama Homs yang mumpuni, mereka mengajar bacaan Al-Qur’an, tafsir, fiqih dan tradisi-tradisi Islam. Mereka adalah Shaykh Muhammad Ali Uyun as-Sud dan shaykh Abdul Aziz Uyun as-Sud.Disana, aku juga mengikuti pelajaran-pelajaran dari dua syaikh Naqsybandi, Shaykh Abdul Jalil Murad dan Shaykh Said as-Suba’i. Hatiku semakin menggebu untuk segera tiba di Damaskus, namun karena perang masih berkecamuk maka kuputuskan untuk menuju Tripoli di Lebanon, dari sana menuju Beirut lalu ke Damaskus lewat jalur yang lebih aman.

Pada tahun 1364 AH / 1944 M, Syaikh Nazim pergi keTripoli dengan bis. Bis ini membawa beliau sampai ke pelabuhan yang masih asing, dan tidak seorangpun dikenalnya. Ketika berjalan mengelilingi pelabuhan, beliau melihat seseorang dari arah berlawanan. Orang itu adalah Mufti Tripoli yang bernama Shaykh Munir al-Malek. Beliau juga merupakan shaykh atas semua thariqat sufi di kota itu.

“ Apakah kamu shaykh Nazim ? aku bermimpi dimana Nabi mengatakan, ‘Salah satu cucuku tiba di Tripoli.’Beliau tunjukkan gambaran sosokmu dan menyuruhku mencarimu di kawasan ini. Nabi menyuruhku agar menjagamu. “


Syaikh Nazim memaparkan hal ini :

Aku tinggal dengan syaikh Munir al-Malek selama sebulan. Beliau mengatur perjalananku menuju Homsuntuk kemudian dilanjutkan ke Damaskus. Aku tiba di Damaskus pada hari Jum’at th. 1365 H / 1945 awal tahun Hijriah. Aku tahu bahwa Syaikh Abdullah ad-Daghestani tinggal di wilayah Hayy al-Maidan, dekat dengan makam Bilal al-Habashi dan banyak keturunan dari keluarga Nabi. Sebuah daerah kuno yang penuh dengan monumen-monumen bersejarah.

ImageAkupun tidak tahu yang mana rumah syaikh Abdullah. Sebuah penglihatan datang ketika aku berdiri di pinggir jalan; syaikh keluar dari rumahnya dan memanggilku untuk masuk. Penglihatan itu segera lenyap, dan tetap tak kulihat siapapun di jalanan. Keadaan tampak senyap akibat invasi orang-orang Perancis dan Inggris. Penduduk ketakutan dan bersembunyi didalam rumah masing-masing. Aku sendirian dan mulai berkontemplasi didalam hati untuk mengetahui yang mana rumah syaikh Abdullah.Sekilas gambaran itu muncul, sebuah rumah dengan sebuah pintu yang spesifik. Aku berusaha mencari sampai akhirnya ketemu. Ketika akan kuketuk, syaikh membuka pintu rumah menyambutku, ” Selamat datang anakku, Nazim Effendi.”

Muhammad Baha’uddin Syah Naqshbandi qs

Kidung subuh sang merpati hutan, haru sendu membirukan
Air mataku membangun lelapnya,
tidurku pun tergugah tangisnya
Tak saling kami mengerti, tatkala saling mengeluhkan
dan dukaku pun telah dipahaminya
(Abul-Hasan an-Nuri)


Syah Naqshband qs adalah Samudra Ilmu yang tak bertepi. Ombaknya dianyam oleh mutiara Ilmu Ilahi. Beliau menjernihkan kemanusiaan dengan Samudra Kemurnian dan Kesalehan. Beliau melepaskan dahaga jiwa dengan air yang berasal dari dukungan spiritualnya. Seisi dunia, termasuk samudra dan benua, berada dalam genggamannya. Beliau adalah bintang yang berhiaskan Mahkota Petunjuk. Beliau mensucikan seluruh jiwa manusia tanpa kecuali dengan nafas sucinya.

Beliau menghiasi bahkan setiap sudut yang sulit terjangkau dengan rahasia dari Muhammadun Rasul-Allah sallallahu alayhi wassalam. Cahayanya menembus setiap lapisan ketidakpedulian.

Keluarbiasaannya melahirkan bukti terhempasnya asa tertepis dari keraguan hati kemanusiaan. Keajaibannya yang penuh kekuatan membawa kehidupan kembali ke dalam hati setelah kematiannya dan menyiapkan jiwa-jiwa dengan perbekalan mereka bagi kehidupan spiritual di masa mendatang. Beliau terpelihara di Maqam Busur Perantara tatkala beliau masih dalam buaian.

Beliau menghisap nectar ilmu ghaib secara terus-menerus dari Cangkir Makrifat (Realitas). Jika Muhammad saw bukanlah Rasul yang terakhir, mungkin beliau akan menjadi Rasul. Segala Puji bagi Allah swt yang telah mengirimkan seorang mujaddid (yang menghidupkan agama Islam). Beliau mengangkat hati manusia, menyebabkan mereka mengangkasa ke langit spiritual. Beliau membuat raja-raja berdiri di pintunya.

Beliau menyebarkan petunjuknya dari Utara hingga Selatan, dan dari Timur ke Barat. Beliau tidak meninggalkan seorang pun tanpa dukungan surgawi, termasuk binatang-binatang liar di rimba raya. Beliau adalah Ghawts teragung, Busur Perantara, Sultannya para Awliya, Kalung bagi seluruh mutiara spiritual yang dipersembahkan di alam semesta ini oleh Hadirat Ilahi. Dengan cahaya petunjuknya, Allah membuat yang baik menjadi yang terbaik, dan mengubah yang jahat menjadi baik.

Beliau adalah Guru dari thariqat ini dan Syaikh dari Matarantai Emas serta merupakan pembawa alur Khwajagan yang terbaik.

Beliau dilahirkan di bulan Muharaam pada tahun 717 H/1317 M, di desa Qasr al-‘Arifan, dekat Bukhara. Allah menganugerahkannya kekuatan-kekuatan ajaib di masa kecilnya. Beliau telah diajari rahasia thariqat ini oleh guru pertamanya, Sayyid Muhammad Baba As-Samasi qs. Kemudian beliau diberikan rahasia dan kemampuan dari thariqat ini oleh Syaikhnya, Sayyid Amir al-Kulal qs. Beliau juga merupakan Uwaysi dalam hubungannya dengan Rasulullah saw, karena beliau dibesarkan dalam hadirat spiritual Abdul Khaliq al-Ghujdawani qs, yang telah mendahuluinya selama 200 tahun.



Awal Mula dari Bimbingannya dan Bimbingan Dari Awal Mulanya

Syah Naqsyband qs berumur delapan belas tahun ketika beliau dikirim kakeknya ke kampung Samas untuk melayani Syaikh thariqat, Muhammad Baba as-Samasi qs, yang telah memintanya. Dari awal persahabatannya dengan Syaikh tersebut, Beliau melihat anugerah yang tak terhitung di dalam dirinya, dan kebutuhan yang amat sangat akan kesucian dan ibadah. Dari masa mudanya, beliau bercerita,

Aku akan bangun lebih awal, tiga jam sebelum shalat Fajar, berwudhu, dan setelah melaksanakan shalat sunnah, Aku akan bersujud, memohon pada Tuhan dengan do’a berikut, ‘Wahai Tuhanku, berilah hamba kekuatan untuk menjalankan kesulitan –kesulitan dan rasa sakit dari Cinta-Mu.’ Lalu Aku akan shalat Fajar bersama dengan Syaikh.

Ketika beliau keluar, suatu hari beliau melihat ke arahku dan berkata, seolah-olah beliau telah bersamaku ketika Aku berdo’a tadi, ‘Wahai anakku, kau harus mengubah cara berdo’amu. Daripada berkata, ‘Ya Allah swt! Anugerahkanlah ridha-Mu pada hamba yang lemah ini.’ Tuhan tidak senang hamba-Nya berada dalam kesulitan. Walau Tuhan dalam Kearifan-Nya mungkin memberikan kesulitan pada hamba-Nya untuk mengujinya, sang hamba tak boleh meminta untuk berada dalam kesulitan. Hal ini berarti tidak menghormati Tuhanmu.’

Ketika Syaikh Muhammad Baba as-Samasi qs wafat, kakekku membawaku ke Bukhara dan Aku menikah di sana. Aku tinggal di Qasr al-‘Arifan, yang merupakan pemeliharaan yang khusus dari Allah swt bagiku, karena Aku menjadi dekat dengan Sayyid Amir Kulal qs. Aku tinggal dan melayaninya, dan beliau mengatakan padaku bahwa Syaikh Muhammad Baba as-Samasi qs telah berkata jauh hari sebelumnya bahwa, ‘Aku tak akan senang denganmu bila engkau tidak memeliharanya dengan baik.’

Suatu hari, Aku duduk bersama seorang teman, dalam pengasingan (khlwat), tiba-tiba langit terbuka dan suatu pemandangan yang agung datang padaku dan Aku mendengar sebuah suara yang berkata, ‘Tidaklah cukup bagimu meninggalkan setiap orang dan datang ke Hadirat Kami sendirian saja?’ Suara ini membuatku gemetar dan lari dari rumah itu. Aku berlari ke sebuah sungai di mana Aku lalu menyeburkan diri.

Aku mencuci pakaianku lalu shalat dua rakaat dengan cara yang belum pernah Aku lakukan sebelumnya, Aku merasa seolah-olah sedang shalat dalam Hadirat-Nya. Segalanya begitu terbuka ke dalam hatiku dalam bentuk tanpa sekat (kashf). Seluruh semesta lenyap dan Aku tak menghiraukan apa pun kecuali berdo’a ke Hadirat-Nya.

Di awal keadaan ketertarikanku, Aku pernah ditanya, ‘Mengapa engkau ingin memasuki Jalan ini?’ Aku menjawab, ‘Agar apa pun yang Aku katakan dan Aku kehendaki akan terjadi.’ Aku dijawab, ‘Itu mustahil. Apa pun yang Kami katakan dan apa pun yang kami kehendaki, itulah yang akan terjadi.’

Dan aku berkata, ‘Aku tak bisa melakukan hal itu. Aku harus diizinkan untuk berkata dan untuk melakukan apapun yang Aku suka, atau, Aku tak menginginkan Jalan ini.’ Lalu Aku menerima jawabannya, ‘Tidak bisa. Apapun yang Kami kehendaki untuk dikatakan dan apapun yang Kami kehendaki untuk terjadi pastilah terucapkan dan terjadi.’ Lalu Aku berkata lagi ‘ Apa pun yang Aku katakan dan apa pun yang Aku kerjakan itulah yang pasti terjadi.’

Dan Aku berkata, ‘Aku tak bisa melakukan hal itu. Aku harus diizinkan untuk berkata dan untuk melakukan apapun yang Aku suka, atau, Aku tak menginginkan Jalan ini.’ Lalu Aku menerima jawabannya, ‘Tidak bisa. Apapun yang Kami kehendaki untuk dikatakan dan apapun yang Kami kehendaki untuk terjadi pastilah terucapkan dan terjadi.’ Lalu Aku berkata lagi ‘ Apa pun yang Aku katakan dan apa pun yang Aku kerjakan itulah yang pasti terjadi.’

Kemudian Aku pun ditinggalkan sendirian selama lima belas hari, hingga Aku menderita depresi yang luar biasa. Kemudian Aku mendengar sebuah suara, ‘Wahai Baha’uddin qs, apapun yang kau inginkan, akan Kami kabulkan.’ Aku amat bergembira. Aku berkata, ‘Aku ingin diberi sebuah thariqat yang akan memimpin siapa pun yang berjalan di atasnya akan langsung menuju ke Hadirat Illahi.’ Dan Aku melihat suatu pemandangan yang agung dan sebuah suara berkata, ‘Apa yang kau minta, telah dikabulkan.’



Kemajuan dan Perjuangannya dalam Thariqat

Syah Naqshband qs menyatakan, “Suatu saat Aku sedang mengalami ekstase dan tanpa akal pikiran (tidak sadar), berpindah dari sini ke sana, tak menyadari apa yang tengah kulakukan. Kakiku robek dan berdarah karena duri pada saat gelap. Aku merasa diriku diarik ke rumah Syaikhku, Sayyid Amir Kulal qs.

Saat itu malam sungguh gelap tanpa bulan dan bintang. Udara amat dingin dan Aku tak memiliki apapun kecuali sebuah jubah kulit yang sudah usang. Ketika Aku tiba di rumahnya, Aku menemukan beliau sedang duduk bersama para sahabatnya.

Ketika beliau melihatku, beliau berkata kepada para pengikutnya, ‘Bawa dia keluar, Aku tak menginginkan dia berada di rumahku.’ Mereka lalu mengeluarkan aku dan Aku merasakan ego berusaha menguasaiku, mencoba meracuni kepercayaanku kepada Syaikhku. Pada saat itu hanya Perlindungan Allah swt dan Rahmat-Nya-lah satu-satunya pendukungku dalam menerima penghinaan ini Demi Allah swt dan demi Syaikhku.

Lalu aku berkata pada egoku, ‘Aku tak memperkenankanmu untuk meracuni kepercayaanku terhadap Syaikhku. ‘Aku begitu lelah dan tertekan sehingga Aku merendahkan hati di depan pintu kesombongan, meletakkan kepalaku di bawah pintu rumah guruku, dan bersumpah dengan Nama Allah bahwa Aku tak akan pindah sampai beliau menerimaku kembali. Salju mulai turun dan udara yang begitu dingin menembus tulangku, membuatku gemetar dalam gelapnya malam. Bahkan cahaya rembulan pun tak ada untuk sedikit membuatku merasa nyaman.

Aku ingat keadaan tersebut, hingga Aku membeku. Namun cinta akan pintu Ilahi Syaikhku yang ada dalam hatiku, membuatku tetap hangat. Subuh pun datang dan Syaikhku keluar dari pintu tanpa melihatku secara fisik. Beliau mengajak kepalaku, yang masih berada di bawah pintunya. Merasakan adanya kepalaku, dengan segera beliau menarik kakinya, membawaku ke dalam rumahnya dan berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, kau telah dihiasi dengan pakaian kebahagiaan. Kau telah dihiasi dengan pakaian Cinta Ilahi. Kau telah dihiasi dengan pakaian yang tidak pernah Aku dan Syaikhku kenakan.

Allah swt senang denganmu, Rasulullah saw senang denganmu, semua Syaikh dari Matarantai Emas senang denganmu.’ Kemudian dengan telaten dan sangat hati-hati beliau mencabuti duri-duri dari kakiku dan membasuh lukaku. Pada saat yang sama beliau menuangkan ilmu pada hatiku yang tak pernah Aku alami sebelumnya. Hal ini membukakan suatu pandangan di mana Aku melihat diriku memasuki rahasia Muhammadun Rasul-Allah saw. Aku melihat diriku melalui rahasia ayat yang merupakan Haqiqa Muhammadiyya (Realitas Muhammad saw).

Hal ini mengantarkanku aku untuk memasuki rahasia dari LA ILAHA ILLALLAH yang merupakan rahasia dari wahdaniyyah (Keunikan Allah). Hal ini lalu mengantar aku untuk memasuki rahasia Asma’ Allah dan Atribut-Nya yang dinyatakan dengan rahasia ahadiyya (Ke-Esa-an Allah). Keadaan-keadaan tersebut tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya dapat diketahui lewat rasa di dalam hati.

Di awal perjalananku di thariqat ini, Aku biasa berkeliaran di malam hari dari satu tempat ke tempat lainnya di pinggiran kota Bukhara. Sendirian di gelapnya malam, khususnya di musim dingin, Aku mengunjungi pemakaman untuk memetik pelajaran dari yang telah meninggal. Suatu malam Aku dibimbing untuk mengunjungi nisan Syaikh Ahmad al-Ajgharawa qs dan membacakan al-Fatihah baginya.

Ketika Aku tiba, Aku menemukan dua orang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Mereka menungguku dengan seekor kuda. Mereka menaikkan aku ke atas kuda dan mengikatkan dua bilah padang di sabukku. Ketika kami tiba, kami semua turun dan memasuki makam dan masjid Syaikh tersebut. Aku duduk menghadap qiblat, tafakur, dan menghubungkan hatiku dengan hati Syaikh itu.

Selama proses meditasi tersebut sebuah pandangan terbuka padaku dan Aku melihat dinding yang menghadap qiblat tiba-tiba runtuh. Sebuah singgasana raksasa muncul. Seseorang yang tinggi besar dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata sedang duduk di singgasana itu. Aku merasa mengenalnya. Kemanapun Aku palingkan wajah di semesta ini yang kulihat adalah orang itu. Di sekelilingnya terdapat kerumunan besar yang terdiri dari Syaikh-Syaikhku, Syaikh Muhammad Baba as-Samasi qs dan Sayyid Amir Kulal qs.

Kemudian Aku merasa takut dengan orang yang tinggi besar itu sementara pada saat yang bersamaan Aku juga merasakan cinta terhadapnya. Aku memiliki ketakutan akan kehadirannya yang makin besar dan cinta kasih akan kecantikan dan pengaruhnya. Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Siapa gerangan manusia agung ini?” Aku mendengar sebuah suara di antara orang-orang di kerumunan itu berkata. ‘Orang agung yang membesarkanmu di jalan spiritualmu ini adalah Syaikhmu. Dia melihat jiwamu manakala masih berupa atom di Hadirat Illahi.

Kau telah berada dalam pelatihannya selama ini. Dialah Syaikh Abdul Khaliq al-Ghujdawani qs dan kerumunan yang sedang kau lihat itu adalah khalifah yang membawa rahasia agungnya, rahasia Matarantai Emas.’ Kemudian Syaikh tersebut mulai menunjuk kepada masing-masing Syaikh seraya berkata, ‘Yang ini Syaikh Ahmad qs, ini Kabir al-Awliya qs, ini ‘Arif Riwakri qs, ini Syaikh Ali Ramitani qs, yang ini Syaikhmu, Muhammad Baba as-Samasi qs, yang semasa hidupnya memberikan jubahnya untukmu. Apakah kau mengenalnya?” ‘Ya’, kataku.

Kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Jubah itu, yang dia berikan kepadamu beberapa saat silam sekarang masih ada di rumahmu, dan dengan berkata Allah telah menyembuhkan banyak penderitaan dalam hidupmu.’ Lalu suara lain datang dan berkata, Syaikh yang berada di singgasana itu akan mengajarimu sesuatu yang kau perlukan selama berjalan lewat jalan ini.’ Aku bertanya apakah mereka akan mengizinkan Aku untuk bersalaman dengannya. Mereka mengizinkannya dan membuka hijab-nya (sekat) dan aku pun mengambil tangannya. Kemudian beliau mengambil tangannya. Kemudian beliau mulai menceritakan tentang suluk (perjalanan), awal, pertengahan dan akhirnya.

Beliau berkata, ‘Kau harus membenahi sumbu yang ada dalam dirimu sehingga cahaya dari yang tak terlihat dapat dikuatkan dalam dirimu dan rahasia-rahasianya dapat terlihat. Kau harus memperlihatkan ketetapanmu dan kau harus kukuh dalam syari’ah Rasulullah saw dalam setiap keadaanmu. Kau harus “menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar” (QS 3:110, 114) dan tetap pada standar tertinggi dari syari’ah dan meninggalkan kemudahan-kemudahan, dan menyingkirkan penemuan baru dalam segala bentuknya (bid’ah), dan buatlah al-Hadits sebagai qiblatmu.

Kau harus menyelidiki kehidupannya (sirah) dan sirah para sahabatnya, dan membuat orang untuk mengikuti dan membaca al-Qur’an baik siang maupun malam, serta melaksanakan shalat dengan segala ibadah tambahannya (nawafil). Jangan abaikan hal sekecil apapun dari kebaikan dan perbuatan-perbuatan mulia yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw.’

Begitu Abdul Khaliq qs selesai, khalifahnya berkata padaku, ‘Agar yakin akan kebenaran pandangan ini, beliau mengirimkan suatu tanda bagimu. Besok, pergi dan kunjungilah Maulana Syamsuddun al-Ambikuti qs, yang akan menghakimi dua orang. Katakan padanya, ‘Kau mencoba membantu si Saqqa, namun kau salah. Perbaikilah dirimu dan bantulah si Turki.’ Bila si Saqqa menyangkal apa yang kau ketakan, dan si hakim terus membela si Saqqa, katakan padanya, ‘Aku memiliki dua bukti. Yang pertama harus bilang pada si Saqqa, ‘Wahai Saqqa, engkau sedang dahaga.’ Dia akan mengerti apa arti dahaga itu.

Sebagai bukti kedua, kau harus bilang kepada si Saqqa, ‘Kau telah meniduri seorang wanita dan dia menjadi hamil, dan kau telah memiliki bayi yang telah digugurkan, dan kau kuburkan bayi itu di bawah pohon pinus.’ Dalam perjalananmu menuju Maulana Syamsuddin qs, bawalah tiga butir kismis dan lewati Syaikhmu, Sayyid Amir al-Kulal qs. Dalam perjalananmu menuju beliau kau akan bertemu dengan seorang Syaikh yang akan memberimu sebantal roti. Ambillah rotinya dan jangan bicara sepatah kata pun dengan Syaikh tersebut.

Lanjutkan hingga kau menemukan sebuah caravan. Seorang petarung akan mendekatimu. Nasihati dan dekati dia kembali. Dia akan menyesal dan akan menjadi salah seorang pengikutmu, Kenakan topimu dan bawa jubah Azizan kepada  Sayyid Amir Kulal qs.’

Setelah itu mereka memindahkan aku dan pandangan itu pun berakhir. Aku kembali pada diriku sendiri. Hari berikutnya Aku pulang ke rumahku dan bertanya kepada keluargaku tentang jubah yang telah disebutkan dalam pandangan itu. Mereka membawanya ke hadapan ku dan berkata, ‘Ini telah ada di sana sejak lama sekali.’ Ketika melihat jubah itu keharuan yang mendalam melandaku. Aku mengambil jubah itu dan pergi ke desa Ambikata, di pinggiran Bukhara, menuju masjid Maulana Syamsuddin qs.

Lalu aku mengajak orang-orang yang berada di masjid itu untuk pergi ke pohon pinus yang ada di dekat masjid. Mereka menurut dan menemukan seorang anak terkubur di sana. Si Saqqa lalu datang dan menangis serta memohon maaf atas apa yang telah dia perbuat, namun semuanya telah berakhir. Maulana Syamsuddin qs dan orang lain yang berada di masjid itu benar-benar terkejut.

Syekh Abdul Qadir al-Jaylani

Syekh Abdul Qadir al-Jaylani merupakan tokoh sufi paling masyhur di Indonesia. Peringatan Haul waliyullah ini pun selalu dirayakan setiap tahun oleh umat Islm Indonesia. Tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Tarekat Qadiriyah ini lebih dikenal masyarakat lewat cerita-cerita karamahnya dibandingkan ajaran spiritualnya.Terlepas dari pro dan kontra atas kebenaran karamahnya, Biografi (manaqib) tentangnya sering dibacakan dalam majelis yang dikenal di masyarakat dengan sebutan manaqiban.

Nama lengkapnya adalah Abdul Qadir ibn Abi Shalih Abdullah Janki Dusat al-Jaylani. Al-Jaylani merupakan penisbatan pada Jil, daerah di belakang Tabaristan. Di tempat itulah ia dilahirkan. Selain Jil, tempat ini disebut juga dengan Jaylan dan Kilan.


NASAB
Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir dilahirkan di Naif, Jailan, Iraq, pada bulan Ramadhan 470 H, bertepatan dengan th 1077 M. Ayahnya bernama Shahih, seorang yang taqwa keturunan Hadhrat Imam Hasan, r.a., cucu pertama Rasulullah saw, putra sulung Imam Ali ra dan Fatimah r.a., puteri tercinta Rasul. Ibu beliau adalah puteri seorang wali, Abdullah Saumai, yang juga masih keturunan Imam Husein, r.a., putera kedua Ali dan Fatimah. Dengan demikian, Sayid Abdul Qadir adalah Hasaniyin sekaligus Huseiniyin.


MASA MUDA
Sejak kecil, ia pendiam, nrimo, bertafakkur dan sering melakukan agar lebih baik, apa yang disebut 'pengalaman-pengalaman mistik'. Ketika berusia delapan belas tahun, kehausan akan ilmu dan keghairahan untuk bersama para orang saleh, telah membawanya ke Baghdad, yang kala itu merupakan pusat ilmu dan peradaban. Kemudian, beliau digelari orang Ghauts Al-A’dzam atau wali Ghauts terbesar.

Dalam terminologi kaum sufi, seorang Ghauts menduduki jenjang ruhaniah dan keistimewaan kedua dalam hal memohon ampunan dan ridha Allah bagi ummat manusia setelah para nabi. Seorang ulama' besar di masa kini, telah menggolongkannya ke dalam Shaddiqin, sebagaimana sebutan Al Qur'an bagi orang semacam itu. Ulama ini mendasarkan pandangannya pada peristiwa yang terjadi pada perjalanan pertama Sayyid Abdul Qadir ke Baghdad.

Diriwayatkan bahwa menjelang keberangkatannya ke Baghdad, ibunya yang sudah menjanda, membekalinya delapan puluh keping emas yang dijahitkan pada bagian dalam mantelnya, persis di bawah ketiaknya, sebagai bekal. Uang ini adalah warisan dari almarhum ayahnya, dimaksudkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Kala hendak berangkat, sang ibu diantaranya berpesan agar jangan berdusta dalam segala keadaan. Sang anak berjanji untuk senantiasa mencamkan pesan tersebut.

Begitu kereta yang ditumpanginya tiba di Hamadan, menghadanglah segerombolan perampok. Kala menjarahi, para perampok sama sekali tak memperhatikannya, karena ia tampak begitu sederhana dan miskin. Kebetulan salah seorang perampok menanyainya apakah ia mempunyai uang atau tidak. Ingat akan janjinya kepada sang ibu, si kecil Abdul Qadir segera menjawab: "Ya, aku punya delapan puluh keping emas yang dijahitkan di dalam baju oleh ibuku." Tentu saja para perampok terperanjat keheranan. Mereka heran, ada manusia sejujur ini.

Mereka membawanya kepada pemimpin mereka, lalu menanyainya, dan jawabannya pun sama. Begitu jahitan baju Abdul Qadir dibuka, didapatilah delapan puluh keping emas sebagaimana dinyatakannya. Sang kepala perampok terhenyak kagum. Ia kisahkan segala yang terjadi antara dia dan ibunya pada saat berangkat, dan ditambahkannya jika ia berbohong, maka akan tak bermakna upayanya menimba ilmu agama.

Mendengar hal ini, menangislah sang kepala perampok, jatuh terduduk di kali Abdul Qadir, dan menyesali segala dosa yang pernah dilakukan. Diriwayatkan, bahwa kepala perampok ini adalah murid pertamanya. Peristiwa ini menunjukkan proses menjadi Shiddiq. Andaikata ia tak benar, maka keberanian kukuh semacam itu demi kebenaran, dalam saat-saat kritis, tak mungkin baginya.


BELAJAR DI BAGHDAD

Selama belajar di Baghdad, karena sedemikian jujur dan murah hati, ia terpaksa mesti tabah menderita. Berkat bakat dan kesalehannya, ia cepat menguasai semua ilmu pada masa itu. Ia membuktikan diri sebagai ahli hukum terbesar di masanya. Tetapi, kerinduan ruhaniahnya yang lebih dalam gelisah ingin mewujudkan diri. Bahkan di masa mudanya, kala tenggelam dalam belajar, ia gemar musyahadah*).

Ia sering berpuasa, dan tak mau meminta makanan dari seseorang, meski harus pergi berhari-hari tanpa makanan. Di Baghdad, ia sering menjumpai orang-orang yang berfikir serba ruhani, dan berintim dengan mereka. Dalam masa pencarian inilah, ia bertemu dengan Hadhrat Hammad, seorang penjual sirup, yang merupakan wali besar pada zamannya.

Lambat laun wali ini menjadi pembimbing ruhani Abdul Qadir. Hadhrat Hammad adalah seorang wali yang keras, karenanya diperlakukannya sedemikian keras sufi yang sedang tumbuh ini. Namun calon ghauts ini menerima semua ini sebagai koreksi bagi kecacatan ruhaninya.

SUNAN AMPEL

1. Asal usul SUNAN AMPEL

Tahukah anda dengan daerah Bukhara? Bukhara terletak di Samarqand. Sejak dahulu daerah Samarqand dikenal sebagai daerah Islam yang melahirkan ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari yang mashur sebagai pewaris hadist shahih.
Disamarqand ini ada seorang ulama besar bernama Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra, seorang Ahlussunnah bermazhab syafi’I, beliau mempunyai seorang putera bernama Ibrahim, dan karena berasal dari samarqand maka Ibrahim kemudian mendapatkan tambahan nama Samarqandi. Orang jawa sukar menyebutkan Samarqandi maka mereka hanya menyebutnya sebagai Syekh Ibrahim Asmarakandi.
Syekh Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra untuk berdakwah ke negara-negara Asia. Perintah inilah yang dilaksanakan dan kemudian beliau diambil menantu oleh Raja Cempa, dijodohkan dengan puteri Raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan.
Negeri Cempa ini menurut sebagian ahli sejarah terletak di Muangthai. Dari perkawinan dengan Dewi Candrawulan maka Syekh Ibrahim Asmarakandi mendapat dua orang putera yaitu Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayyid Ali Murtadho. Sedangkan adik Dewi Candrawulan yang bernama Dewi Dwarawati diperisteri oleh Prabu Brawijaya Majapahit. Dengan demikian keduanya adalah keponakan Ratu Majapahit dan tergolong putera bangsawan atau pangeran kerajaan. Para pangeran atau bangsawan kerajaan pada waktu itu mendapat gelar Rahadian yang artinya Tuanku, dalam proses selanjutnya sebutan ini cukup dipersingkat dengan Raden.
Raja Majapahit sangat senang mendapat isteri dari negeri Cempa yang wajahnya dan kepribadiannya sangat memikat hati. Sehingga  isteri-osteri  yang lainnya diceraikan, banyak yang diberikan kepada para adipatinya yang tersebar di seluruh Nusantara. Salah satu contoh adalah isteri yang bernama Dewi Kian, seorang puteri Cina yang diberikan kepada Adipati Ario Damar di Palembang.
Ketika Dewi Kian diceraikan dan diberikan kepada Ario Damar saat itu sedang hamil tiga bulan. Ario Damar menggauli puteri Cina itu sampai si jabang bayi terlahir kedunia. Bayi yang lahir dari Dewi Kian itulah yang nantunya bernama Raden Hasan atau lebih dikenal dengan nama “ Raden Patah “,  salah satu seorang daru murid Sunan Ampel yang menjadi Raja di Demak Bintoro.
Kerajaan Majapahit sesudah ditinggal Mahapatih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk mengalami kemunduran Drastis. Kerajaan terpecah belah karena terjadinya perang saudara. Dan para adipati banyak yang tidak loyal dengan keturunan Prabu Hayam Wuruk yaitu Prabu Brawijaya Kertabumi.
Pajak dan upeti kerajaan tidak ada yang sampai ke istana Majapahit. Lebih sering dinikmati oleh para adipati itu sendiri. Hal ini membuat sang Prabu bersedih hati. Lebih-lebih lagi dengan adanya kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pangeran yang suka berpesta pra dan main judi serta mabuk-mabukan. Prabu Brawijaya sadar betul bila kebiasaan semacam ini diteruskan negara/kerjaan akan menjadi lemah dan jika kerajaan sudah kehilangan kekuasaan betapa mudahnya bagi musuh untuk menghancurkan Majapahit Raya.
Ratu Dwarawati, yaitu isteri Prabu Brawijaya mengetahui kerisauan hati suaminya. Dengan memberanikan diri dia mengajukan pendapat kepada suaminya. Saya mempunyai seorang keponakan yang ahli mendidik dalam hal mengatasi kemerosotan budi pekerti, kata Ratu Dwarawati.
Betulkah? Tanya sang Prabu . Ya, namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putera dari kanda Dewi Candrawulan di negeri Cempa. Bila kanda berkenan saya akan meminta Ramanda Prabu di Cempa untuk mendatangkan Ali Rahmatullah ke Majapahit ini.
Tentu saja aku merasa senang bila Rama Prabu di Cempa Berkenan mengirimkan Sayyid Ali Rahmatullah ini kata Prabu Brawijaya.

Dibalik Sejarah NU

PAHAMILAH SEJARAH NAHDLATUL ULAMA (NU)
Edisi Spesial Memperingati Harlah NU yang ke-87
Ulama-ulama Indonesia di Haromain: Embrio NU di Indonesia


Banyak di antara kita yang kepaten obor, kehilangan sejarah, terutama generasi-generasi muda. Hal itupun tidak bisa disalahkan, sebab orang tua-orang tua kita, -sebagian jarang memberi tahu apa dan bagaimana sebenarnya Nahdlitul Ulama itu.

Karena pengertian-pengertian mulai dari sejarah bagaimana berdirinya NU, bagaimana perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan NU, bagaimana asal-usul atau awal mulanya KH. Hasyim Asy’ari mendirikan NU dan mengapa Ahlussunah wal Jama’ah harus diberi wadah di Indonesia ini.

Dibentuknya NU sebagai wadah Ahlussunah wal Jama’ah bukan semata-mata KH. Hasyim Asy’ari ingin berinovasi, tapi memang kondisi pada waktu itu sudah sampai pada kondisi dhoruri, wajib mendirikan sebuah wadah. Kesimpulan bahwa membentuk sebuah wadah Ahlussunah wal Jama’ah di Indonesia menjadi satu keharusan, merupakan buah dari pengalaman ulama-ulama Ahlussunah wal Jama’ah, terutama pada rentang waktu pada tahun 1200 H sampai 1350 H.

Pada kurun itu ulama Indonesia sangat mewarnai dan perannya dalam menyemarakkan kegiatan ilmiyah di Masjidil Haram tidak kecil. Misal diantaranya ada seorang ulama yang sangat terkenal, tidak satupun muridnya yang tidak menjadi ulama terkenal, ulama-ulama yang sangat tabahur fi ‘ilmi Syari’ah fi thoriqoh wa fi ‘ilmi tasawuf, ilmunya sangat melaut luas dalam syari’ah, thoriqoh dan ilmu tasawuf. Diantaranya dari Sambas, Ahmad bin Abdus Shamad Sambas. Murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama-ulama besar seperti Kiyai Tholhah Gunungjati Cirebon.

Kiyai Tholhah ini adalah kakek dari Kiyai Syarif Wonopringgo, Pekalongan. Muridnya yang lain, Kiyai Syarifudin bin Kiyai Zaenal Abidin bin Kiyai Muhammad Tholhah. Beliau diberi umur panjang, usianya seratus tahun lebih. Adik seperguruan beliau diantaranya Kiyai Ahmad Kholil Bangkalan. Kiyai Kholil lahir pada tahun 1227 H. Dan diantaranya murid-murid Syekh Ahmad Sambas yaitu Syekh Abdul Qodir al-Bantani, yang menurunkan anak murid, yaitu Syekh Abdul Aziz Cibeber dan Kiyai Asnawi Banten.

Ulama lain yang sangat terkenal sebagai ulama ternama di Masjidil Harom adalah Kiyai Nawawi al-Bantani. Beliau lahir pada tahun 1230 H dan meninggal pada tahun 1310 H bertepatan dengan meninggalnya mufti besar Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Ulama Indonesia yang lainnya yang berkiprah di Masjidil Harom adalah Sayyid Ahmad an-Nahrowi al-Banyumasi. Beliau diberi umur panjang, beliau meninggal pada usia 125.

SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN

1. Hujjatul Islam Al Muhaddits Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris As Syafii rahimahullah

Dikenal dengan gelar Imam Syafii, lahir pada tahun 150H dan wafat pada 204H, berkata Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) bahwa tiada kulihat seorang yang lebih mengikuti hadits selain Muhammad bin Idris Assyafii, berkata pula Imam Ahmad (yang merupakan murid dari Imam Syafii) aku mendoakan Syafii selama 30 tahun setiap malamnya, dan Imam Syafii ini berguru kepada Imam Malik, dan ia telah hafal Alqur’an sebelum usia 10 tahun, dan pada usia 12 tahun ia telah hafal Kitab Al Muwatta’ karangan Imam Malik yang berisi sekitar 2.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya.


2. Hujjatul Islam Al Muhaddits Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

Beliau wafat pada tahun 241 H dalam usia 77 tahun, beliau berguru pada banyak para Imam dan Muhaddits, diantara guru beliau adalah Imam Syafi’i rahimahullah, dan beliau hafal 1.000.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Beliau digelari sebagai salah satu “Huffadhuddunia” yaitu salah satu orang yang paling banyak hafal hadits diseluruh dunia sepanjang zaman, dan beliau rahimahullah banyak mempunyai murid, diantaranya adalah Imam Muslim rahimahullah.
Diriwayatkan ketika datang seorang pemuda yang ingin menjadi murid beliau maka beliau berkata pada anak itu : “ini ada 10.000 hadits, hafalkanlah, bila kau telah hafal, barulah kau boleh belajar bersama murid - muridku”, tentunya murid - murid beliau adalah para Huffadh dan Muhadditsin yang hafal ratusan ribu hadits, maka pemuda itu pun pergi dan kembali beberapa waktu kemudian. Ia telah hafal 10.000 hadits yang diberikan oleh Imam Ahmad itu dan lalu Imam Ahmad berkata : “sungguh hadist yang kau hafal itu adalah hadits palsu, tidak ada satupun yang shahih, hafalan itu hanya untuk latihan menguatkan hafalanmu, sebab bila kau salah maka tak dosa”, karena bila ia hafalkan hadits shahih lalu ia salah dalam menghafalnya maka ia akan membawa dusta dan kesalahan bagi ummat hingga akhir zaman.
Diriwayatkan ketika Imam Ahmad bin Hanbal hampir wafat, ia wasiat kepada anaknya untuk menaruhkan 3 helai rambut Rasulullah saw yang memang disimpannya, untuk ditaruhkan 3 helai rambut Rasul saw itu masing - masing di kedua matanya dan bibirnya. Beliau wafat pada malam jum’at, dan muslimin yang menghadiri shalat jenazahnya sebanyak 800.000 pria dan 60.000 wanita, bahkan bila dihitung dengan kesemua yang datang dan datang maka mencapai 1.000.000 hadirin.
Berkata Imam Abubakar Almarwazi rahimahullah, aku bermimpi Imam Ahmad bin Hanbal setelah ia wafat, kulihat ia disebuah taman indah, dengan pakaian jubah hijau dengan memakai Mahkota Cahaya.
Berkata Imam Abu Yusuf Alhayyan bahwa ketika wafat imam Ahmad, ada orang yang bermimpi bahwa setiap kubur diterangi pelita, dan pelita itu adalah kemuliaan atas wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal dan banyak dari mereka yang dibebaskan dari siksa kubur karena wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal diantara mereka.
Berkata Imam Ali bin Al Banaa’, ketika dimakamkan Ummul Qathi’iy didekat makam Imam Ahmad, maka beberapa hari kemudian ia bermimpi berjumpa Ummul Qathi’iy, seraya berkata : “Terimakasih atasmu yang telah memakamkanku disamping kubur Imam Ahmad, yang setiap malam Rahmat turun dikuburnya dan Rahmat itu menyeluruh pada ahlil kubur disini hingga akupun termasuk diantara yang mendapatkannya”.

Sebelum nabi Hijrah

Ringkasan sebelum masa kenabian

Penghulu kita Muhammad bin Abdullah dan Aminah Al Quroisyah ialah penutup sekalian nabi-nabi dan utusan Allah kepada semua nabi, supaya mereka menyembah Allah semata-mata, dan supaya mereka tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah.

Dilahirkan Nabi saw di Mekah, pada hari senin, tanggal 12 Robiul Awal. Ayah beliau meninggal sebelum beliau dilahirkan dan dikubur di Madinah. Lalu ibunya yang mengasuh beliau. Sesudah ibunya, beliau disusui oleh Tsuwaibah Al Aslamiyah, kemudian oleh Halimah As Sa'diyah.

Pada umur 6 tahun, meninggallah ibu Nabi di Abwaa'. Lalu beliau dipelihara oleh Ummu Aiman dan ditanggung oleh datuknya. Pada umur 8 tahun, meninggallah pula datuknya, lalu beliau ditanggung oleh pamannya, yaitu Abu Tholib.

Ketika berumur 9 tahun, berlayarlah nabi bersama pamannya. Abi Thalib, ke negri Syam. Seorang pendeta bernama Buhairaa melihat nabi dan mengenal akan beliau.

Pada masa umur 25 tahun. Rosululloh saw berlayar dengan membawa dagangan siti Khadijah dan sesudah kembalinya dua bulan, Nabi menikah dengan Khadijah. Sedang Siti Khadijah pada waktu itu berumur 40 tahun. Ketika berumur 35 tahunbeliau bersatu dengan kaum Quroisy dalam mendirikan ka'bah dan beliau memberi putusan diantara mereka tentang perletakan Al Hajarul Aswad di tempatnya.

Beliau termasyhur antara kaumnya dengan sifat-sifatnya yang terpuji. Mereka cinta kepadanya dan menghormatinya hingga mereka gelarkan beliau "Al Amien"
Sesungguhnya Allah telah memelihara nabi dari amal-amal orang jahiliyah. Beliau suka menjauhkan diri dari pergaulan dengan manusia ketika umurnya hampir 40 tahun. Adalah Nabi suka menjalankan ibadahnya di Gua Hira' menurut agama datuknya yaitu nabi Ibrahim.

Perjalanan Nur Nabi saw

Pada garis keturunan ‘Adnan, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, terdapat pribadi pribadi yang di sulbinya tersipan nur Nabi Muhammad saw.

Istri Nabi Ibrahim As yang bernama Sarah tak dapat menyembunyikan rasa cemburunya saat melihat jariyah-nya, Hajar, yang telah menjadi istri kedua Nabi Ibrahim, melahirkan anak lelaki, bernama Isma’il. Nabi Ibrahim As amat memahami perasaan sang istri. Karena itu, ia yang saat itu bermukim di Syam, berniat hendak menjauhkan putranya bersama Hajar dari Sarah. Ia pun membawa keduanya pergi hingga tiba di sebuah tempat yang dikehendaki Allah kelak menjadi tempat tinggal anak cucu Isma’il As , yaitu lembah gersang di tengah Makkah.
Setiba di tempat itu, Nabi Ibrahmim As meninggalkan Hajar bersama putranya, Isma’il As, dengan menunggang untanya berjalan pulang ke Syam.

Sambil mengemban sang putra, Hajar berjalan tergopoh gopoh mengikuti suaminya dari belakang unta seraya bertanya, “Kepada siapa engkau meninggalkanku bersama anakku ini?”
Ibrahim As menyahut singkat, “Kepada Allah Azza wa Jalla”

Jawaban itu sama sekali bukan karena ia ingin berlepas diri dari tanggung jawab seorang kepala keluarga, namun tak lain karena ia sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi kelak, atas kehendak Allah.
Sejak saat itu Isma’il As tinggal di kota Makkah, hingga menurunkan banyak keturunan. Diantara keturunannya, terdapat kaum yang dikenal sebagai ‘Adnaniyyun, atau keturunan ‘Adnan. Karena berbagai kelebihan yang mereka miliki, kaum ini memiliki posisi istimewa di tengah tengah penduduk Makkah kala itu.
Di antara keistimewaan yang ada pada mereka adalah, pada garis keturunan ‘Adnan, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, terdapat pribadi pribadi yang didalam sulbinya tersimpan nur Muhammad Saw.
Siapa Menanam Keburukan…

Putra putra ‘Adnan tentunya menjadi generasi pertama kaum ‘Adnaniyyun. Di antara mereka ada yang bernama Ma’ad. Isyarat akan keberadaan nur agung pada dirinya terlihat dari namaya, Ma’ad, yang berasal dari a’addahu,  maksudnya ia dijadikan sebagai persiapan untuk suatu masa.
Ma’ad dikenal sebagai salah seorang yang memerangi Bani Israil. Disebutkan, bila ia berperang, tidaklah ia pulang kecuali dengan kemenangan. Dan itu disebabkan keberkahan nur Muhammad yang ada di dahinya.
Saat mengutus Bukhtanashshar kepada bangsa Arab, Allah perintahkan Nabi Armiya As untuk membawa Ma’ad diatas kendaraannya, agar Ma’ad tidak terkena kesengsaraan dan kebinasaan. dikatakan kepadanya, “Sungguh akan Ku-keluarkan dari sulbinya, seorang nabi mulia yang Ku-jadikan penutup para nabi.”
Armiya’ As pun mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya itu.

Saat istri Ma’ad tengah bersalin, Ma’ad melihat nur Muhammad berkilauan diantara kedua mata si bayi. Betapa bergembiranya ia. Kemudian ia menyalakan dupa dan memberikan makanan. Ia mengatakan, ‘Sesungguhnya semua ini adalah nuzr (sedikit) untuk hak dari kelahiran ini’
Si bayi, yang nama sebenarnya adalah Khalid, kemudian dipanggil dengan sebutan Nizar, yang berasal dari kata an-nazr atau nuzr.
Saat Nizar beranjak dewasa dan mengetahui bahwa didalam dirinya bersemayam nur Muhammad, ia pun sangat bergahagia, hingga ia menyembelih hewan qurban dalam jumlah yang sangat banyak pada masa itu untuk dibagi bagikan.

Perjalanan hidup Nabi Muhammad saw

Nabi Muhammad Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam memiliki nama lengkap Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib yang juga dipanggil nama Syaibatul Hamd bin Hasyim bin Abdu Manaf, alias Mughirah bin Quraisy, alias Zaid bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Al-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.
Itulah nasab Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam yang disepakati para ulama. Adapun tentang kelanjutan silsilah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam di atas Adnan, para ulama masih bersilang pendapat. Dari pendapat-pendapat yang ada, tidak ada satu pun yang dapat dianggap paling shahih. Akan tetapi, semua ulama sepakat menyatakan bahwa Adnan memang keturunan langsung dari Nabi Isma’il ‘alaihisalam bin Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam.
Jadi, terlihat jelas bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sengaja memilih utusan dari kabilah paling bersih dan garis keturunan paling suci yang sama sekali tidak dikotori noda jahiliah.
Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah diantara anak keturunan Isma’il, dan Dia telah memilih Quraisy diantara Kinanah , dan memilih Hasyim diantara Quraisy, dan memilih aku diantara Hasyim.”
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam dilahirkan pada Tahun Gajah. Disebut demikian karena pada tahun itu Abrahah Al-Asyram berusaha menyerang Mekah untuk menghancurkan Ka’bah. Allah subhanahu wa ta’ala mematahkan niat jahat Gubernur Yaman itu dengan salah satu tanda kekuasaanNya. Peristiwa tersebut kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an Al-Karim. Menurut pendapat paling kuat, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam  dilahirkan pada hari Senin, malam 12 Rabi’ul Awwal.
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam terlahir dalam keadaan yatim. Sang ayah yang bernama ‘Abdullah wafat ketika ibundanya tengah mengandung beliau selama dua bulan. Setelah lahir, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam berada di bawah asuhan kakeknya, Abdul Muthalib. Dialah yang mencarikan untuknya seorang ibu susu, sebagaimana umum dilakukan masyarakaat Arab pada masa itu. Abdul Muthalib lalu menyerahkan Muhammad kecil kepada seorang perempuan Bani Sa’d bin Bakr yang bernama Halima binti Abi Dzuaib.
Para perawi sirah sepakat menyatakan bahwa pada saat itu, Bani Sa’d sedang dilanda paceklik. Kemarau panjang melanda daerah tempat tinggal mereka. Akan tetapi, ketika Muhammad kecil tiba di kediaman Halimah dan menetap di sana untuk disusui, lambat laun tanah di sekitar kediaman Halimah kembali subur. Tanaman kembali menghijau sehingga domba-domba yang dipelihara keluarga Halimah dapat merumput dan kembali ke kandang dalam keadaan kenyang dan dipenuhi susu.
Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam tinggal di kediaman Bani Sa’d inilah, terjadi peristiwa yang dikenal dengan “pembelahan dada”. Salah satu hadits yang berbicara tentang peristiwa ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (Shahih Muslim, 1/ 101 dan 102). Setelah disapih, Muhammad kecil pun dikembalikan kepada ibundanya. Saat itu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam baru berusia lima tahun.
Menginjak usia enam tahun, sang ibunda yang bernama Aminah wafat maka pengasuhan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam pun berpindah ke tangan sang kakek, Abdul Muthalib. Sang kakek wafat ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam berusia 8 tahun. Pengasuhan beliau pun berpindah lagi ke tangan sang paman yang bernama Abu Thalib.

Menginjak usia 12 tahun, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam diajak pamannya, Abu Thalib, melakukan perjalanan niaga ke Syam. Setibanya di Bashra, kafilah Abu Thalib melewati sebuah biara yang didiami seorang rahib yang bernama Buhaira. Sebagai rahib, pengetahuan Buhaira mengenai Injil dan ajaran Nasrani cukup mendalam. Di tempat itulah, Buhaira melihat Muhammad muda yang datang bersama pamannya. Setelah berbincang-bincang dengan Muhammad, Buhaira bertanya kepada Abu Thalib,
“Apa hubungan Anda dengan anak muda ini?”.
Abu Thalib menjawab, “Dia anakku”.
Abu Thalib menyebut Muhammad muda sebagai anaknya karena kasih sayang ayah Sayyidina Ali ini kepada sang keponakan cukup besar.
Mendengar jawaban itu, Buhaira berkata, “Tidak, dia pasti bukan anakmu. Ayah anak ini pasti sudah meninggal dunia.”
“Sebenarnya dia keponakanku”, kata Abu Thalib lirih.
“Lantas, bagaimana nasib ayahnya?”, sambung Buhaira.
Abu Thalib menjawab, “Ayahnya sudah meninggal dunia ketika ia masih dalam kandungan”.
“Engkau benar”, tukas Buhaira. “Kalau begitu, sekarang juga segeralah engkau kembali ke negerimu. Jagalah anak ini baik-baik dari orang Yahudi. Demi Allah, kalau saja orang-orang Yahudi melihat anak ini, mereka pasti menimpakan hal yang sangat buruk kepadanya. Sesungguhnya, keponakanmu ini kelak akan mengemban sebuah perkara yang sangat besar”.
Mendengar penjelasan itu, Abu Thalib langsung membawa Muhammad muda pulang ke Mekah.

Rabu, 24 September 2014

Orang Tua Nabi adalah Orang Mulia

Dalil � dalil yang mereka kemukakan itu sefihak, namun telah muncul dalam fihak lainnya yang menjatuhkan dalil mereka yang banyak teriwayatkan, sebagaimana dijelaskan bahwa Paman Nabi saw yang jelas � jelas menolak bersyahadat saat wafatnya.

Ketika ditanyakan pada Nabi saw :
�Apa yang kau perbuat untuk pamanmu Abu Thalib?, dahulu ia melindungimu, dan marah demi membelamu.., maka Rasul saw bersabda : �Dia di pantai api neraka, kalau bukan karena aku, niscaya ia di dasar neraka yang terdalam� (Shahih Bukhari Bab Manaqib pasal : Qisshah Abu Thalib hadits No.3594); (Shahih Muslim Bab Iman, pasal : syafaat Nabi saw Li Abi Thalib wattakhfiif hadits No. 308). (Hadits semakna pada Shahih Bukhari bab Adab pasal : Kunyah limusyrik hadits No.5740, Shahih Muslim Bab Al Hajj pasal : tahrimusshayd lilmuhrim)

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy : �Berkata Imam Baihaqi di dalam penjelasan riwayat masalah Abu Thalib : tiada makna pengingkaran karena telah shahihnya riwayat ini, dan bentuknya menurutku bahwa syafaat pada kafir terhalang sebagaimana sampainya kabar yang jelas dan benar, bahwa tiada yang bisa memberi syafaaat pada kafir seorangpun, namun ini adalah makna umum bagi semua kafir, dan boleh saja ada kekhususan darinya bagi siapa yang telah dikuatkan kekhususan baginya (Rasul saw),
Berkata sebagian mereka yang berpendapat bahwa balasan orang kafir daripada siksa adalah atas kekufurannya dan maksiatnya, maka boleh saja Allah mengurangkan sebagian dari siksa orang kafir, demi menenangkan hati sang Nabi saw pemberi syafaat, bukan karena pahala bagi orang kafir, karena pahalanya telah hapus karena kematiannya.� (Fathul Baari ABisyarah Shahih Bukhari Juz 11 hal 431).

Perjalanan Nur Nabi saw dari Nabi Ibrohim ke Orang tua nabi

Pada garis keturunan �Adnan, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, terdapat pribadi pribadi yang di sulbinya tersipan nur Nabi Muhammad saw.

Istri Nabi Ibrahim As yang bernama Sarah tak dapat menyembunyikan rasa cemburunya saat melihat jariyah-nya, Hajar, yang telah menjadi istri kedua Nabi Ibrahim, melahirkan anak lelaki, bernama Isma�il. Nabi Ibrahim As amat memahami perasaan sang istri. Karena itu, ia yang saat itu bermukim di Syam, berniat hendak menjauhkan putranya bersama Hajar dari Sarah. Ia pun membawa keduanya pergi hingga tiba di sebuah tempat yang dikehendaki Allah kelak menjadi tempat tinggal anak cucu Isma�il As , yaitu lembah gersang di tengah Makkah.
Setiba di tempat itu, Nabi Ibrahmim As meninggalkan Hajar bersama putranya, Isma�il As, dengan menunggang untanya berjalan pulang ke Syam.

Sambil mengemban sang putra, Hajar berjalan tergopoh gopoh mengikuti suaminya dari belakang unta seraya bertanya, �Kepada siapa engkau meninggalkanku bersama anakku ini?�
Ibrahim As menyahut singkat, �Kepada Allah Azza wa Jalla�

Jawaban itu sama sekali bukan karena ia ingin berlepas diri dari tanggung jawab seorang kepala keluarga, namun tak lain karena ia sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi kelak, atas kehendak Allah.
Sejak saat itu Isma�il As tinggal di kota Makkah, hingga menurunkan banyak keturunan. Diantara keturunannya, terdapat kaum yang dikenal sebagai �Adnaniyyun, atau keturunan �Adnan. Karena berbagai kelebihan yang mereka miliki, kaum ini memiliki posisi istimewa di tengah tengah penduduk Makkah kala itu.

Rabu, 17 September 2014

SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN

1. Hujjatul Islam Al Muhaddits Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris As Syafii rahimahullah
Dikenal dengan gelar Imam Syafii, lahir pada tahun 150H dan wafat pada 204H, berkata Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) bahwa tiada kulihat seorang yang lebih mengikuti hadits selain Muhammad bin Idris Assyafii, berkata pula Imam Ahmad (yang merupakan murid dari Imam Syafii) aku mendoakan Syafii selama 30 tahun setiap malamnya, dan Imam Syafii ini berguru kepada Imam Malik, dan ia telah hafal Alqur’an sebelum usia 10 tahun, dan pada usia 12 tahun ia telah hafal Kitab Al Muwatta’ karangan Imam Malik yang berisi sekitar 2.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya.

2. Hujjatul Islam Al Muhaddits Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
Beliau wafat pada tahun 241 H dalam usia 77 tahun, beliau berguru pada banyak para Imam dan Muhaddits, diantara guru beliau adalah Imam Syafi’i rahimahullah, dan beliau hafal 1.000.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Beliau digelari sebagai salah satu “Huffadhuddunia” yaitu salah satu orang yang paling banyak hafal hadits diseluruh dunia sepanjang zaman, dan beliau rahimahullah banyak mempunyai murid, diantaranya adalah Imam Muslim rahimahullah.
Diriwayatkan ketika datang seorang pemuda yang ingin menjadi murid beliau maka beliau berkata pada anak itu : ini ada 10.000 hadits, hafalkanlah, bila kau telah hafal, barulah kau boleh belajar bersama murid - muridku”, tentunya murid - murid beliau adalah para Huffadh dan Muhadditsin yang hafal ratusan ribu hadits, maka pemuda itu pun pergi dan kembali beberapa waktu kemudian. Ia telah hafal 10.000 hadits yang diberikan oleh Imam Ahmad itu dan lalu Imam Ahmad berkata : “sungguh hadist yang kau hafal itu adalah hadits palsu, tidak ada satupun yang shahih, hafalan itu hanya untuk latihan menguatkan hafalanmu, sebab bila kau salah maka tak dosa”, karena bila ia hafalkan hadits shahih lalu ia salah dalam menghafalnya maka ia akan membawa dusta dan kesalahan bagi ummat hingga akhir zaman.
Diriwayatkan ketika Imam Ahmad bin Hanbal hampir wafat, ia wasiat kepada anaknya untuk menaruhkan 3 helai rambut Rasulullah saw yang memang disimpannya, untuk ditaruhkan 3 helai rambut Rasul saw itu masing - masing di kedua matanya dan bibirnya. Beliau wafat pada malam jum’at, dan muslimin yang menghadiri shalat jenazahnya sebanyak 800.000 pria dan 60.000 wanita, bahkan bila dihitung dengan kesemua yang datang dan datang maka mencapai 1.000.000 hadirin.
Berkata Imam Abubakar Almarwazi rahimahullah, aku bermimpi Imam Ahmad bin Hanbal setelah ia wafat, kulihat ia disebuah taman indah, dengan pakaian jubah hijau dengan memakai Mahkota Cahaya.
Berkata Imam Abu Yusuf Alhayyan bahwa ketika wafat imam Ahmad, ada orang yang bermimpi bahwa setiap kubur diterangi pelita, dan pelita itu adalah kemuliaan atas wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal dan banyak dari mereka yang dibebaskan dari siksa kubur karena wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal diantara mereka.
Berkata Imam Ali bin Al Banaa’, ketika dimakamkan Ummul Qathi’iy didekat makam Imam Ahmad, maka beberapa hari kemudian ia bermimpi berjumpa Ummul Qathi’iy, seraya berkata : “Terimakasih atasmu yang telah memakamkanku disamping kubur Imam Ahmad, yang setiap malam Rahmat turun dikuburnya dan Rahmat itu menyeluruh pada ahlil kubur disini hingga akupun termasuk diantara yang mendapatkannya”.

Detik-Detik Kelahiran Rasulullah

Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-Syafi�i di kitabnya An-Ni�matul Kubraa �Alal �Aalam hal. 61 telah menyebutkan: Bahwa sesungguhnya pada bulan kesembilan kehamilan Sayyidah Aminah (bulan Rabi�ul Awwal), saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad sudah semakin dekat, Allah SWT semakin melimpahkan berbagai macam anugerahnya kepada Sayyidah Aminah, mulai malam tanggal satu hingga malam tanggal 12 Bulan Rabi�ul Awwal malam kelahiran Baginda Rasulullah Muhammad SAW;
Pada malam tanggal 1 Allah SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayyidah Aminah, sehingga Beliau merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Pada malam tanggal 2 datang seruan berita gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapati anugerah agung yang luar biasa dari Allah SWT.
Pada malam tanggal 3 datang seruan memanggil kepadanya��Wahai Aminah, sudah dekat saatnya Engkau akan melahirkan Nabi Agung Rasulullah Muhammad SAW yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT�.
Pada malam tanggal 4 Sayyidah Aminah mendengar beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.
Pada malam tanggal 5 Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabiyyullah Ibrahim AS Khalilullah.
Pada malam tanggal 6 Sayyidah Aminah melihat cahaya Rasulullah SAW memenuhi segala penjuru alam semesta.
Pada malam tanggal 7 Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.
Pada malam tanggal 8 Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut sangat jelas mengumandangkan�.�Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi Agung Kekasih Allah SWT Pencipta alam semesta..�
Pada malam tanggal 9 Allah SWT semakin mengucurkan limpahan Belas Kasih Sayangnya kepada Sayyidah Aminah, sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayyidah Aminah.
Pada malam tanggal 10 Sayyidah Aminah melihat tanah Khoif dan Mina ikut bergembira ria menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW .
Pada malam tanggal 11 Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Perjalanan Nur Muhammad saw 1

Tak henti hentinya Allah, Yang Maha Perkasa dan Maha Agung, memindahkan nya dari rangkaian tulang sulbi yang mulia dan melewati rahim rahim yang suci�

Saat bulan Maulid tiba, umat islam di berbagai belahan dunia menyambutnya dengan penuh suka cita. Di sana sini, mereka merayakan momentum datangnya bulan kelahiran Rasulullah Saw ini dengan berbagai cara dan beragam ekspresi. Ketika itu, mereka memperdengarkan perjalanan hidup sang Manusia teladan, disamping juga mengisahkan detik detik kelahirannya.  Kesemuanya itu diselenggarakan dengan harapan agar umat dapat bercermin dari keteladanan hidup Rasulullah saw dan semakin menambah kecintaan kepadanaya.
Selain itu, ada pula yang mengulas seputar sejarah penciptaan cahaya Rasulullah yang diyakini sebagai awal mula keberadaan segala makhluk ciptaan Allah , atau yang populer dengan istilah  nur Muhammad.
Membicarakan nur Muhammad tak terlepas dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq bin Umar bin Muslim ad-Dimasyqi Ash-Shan�ani (126-211 H/744-826 M), yang menceritakan kala sahabat Jabir bin Abdullah Al-Anshari RA bertanya kepada Rasulullah, �Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, beritahukan lah kepadaku sesuatu yang pertama kali dicilptakan Allah sebelum yang lainnya.�
Maka jawab Rasulullah, �Wahai Jabir, sesungguhnya Allah telah menciptakan nur nabimu, Muhammad, dari nur-Nya, sebelum Dia menciptakan segala sesuatu.�
Sebagaimana yang dikemukakan Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam kitab Al-Anwar al-Muhammadiyyah,  konsep Nur Muhammad itu memiliki dua sisi. Sisi pertama yaitu sebagai konsep makhluk yang pertama diciptakan, kemudian segala sesuatu tercipta darinya. Sisi kedua dari sisi hakikat nur Muhammad yang Allah letakkan pada diri Nabi Adam As, kemudian berpindah kepada Siti Hawa,  lalu kepada putranya, Syits AS, dan terus berpindah pindah kepada para nabi dan orang orang suci yang tak lain adalah para leluhur Nabi Muhammad Saw.
Banyak riwayat dan perjelasan dari para ulama yang mengisahkan perjalanan cahaya nan agung itu. Tulisan ini mencoba mengumpulkan nya, mulai dari keterangan awal penciptaannya hingga perpindahannya dari generasi ke generasi.

Minggu, 14 September 2014

SUNAN AMPEL

1. Asal usul SUNAN AMPEL
Tahukah anda dengan daerah Bukhara? Bukhara terletak di Samarqand. Sejak dahulu daerah Samarqand dikenal sebagai daerah Islam yang melahirkan ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari yang mashur sebagai pewaris hadist shahih.
Disamarqand ini ada seorang ulama besar bernama Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra, seorang Ahlussunnah bermazhab syafi’I, beliau mempunyai seorang putera bernama Ibrahim, dan karena berasal dari samarqand maka Ibrahim kemudian mendapatkan tambahan nama Samarqandi. Orang jawa sukar menyebutkan Samarqandi maka mereka hanya menyebutnya sebagai Syekh Ibrahim Asmarakandi.
Syekh Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra untuk berdakwah ke negara-negara Asia. Perintah inilah yang dilaksanakan dan kemudian beliau diambil menantu oleh Raja Cempa, dijodohkan dengan puteri Raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan.
Negeri Cempa ini menurut sebagian ahli sejarah terletak di Muangthai. Dari perkawinan dengan Dewi Candrawulan maka Syekh Ibrahim Asmarakandi mendapat dua orang putera yaitu Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayyid Ali Murtadho. Sedangkan adik Dewi Candrawulan yang bernama Dewi Dwarawati diperisteri oleh Prabu Brawijaya Majapahit. Dengan demikian keduanya adalah keponakan Ratu Majapahit dan tergolong putera bangsawan atau pangeran kerajaan. Para pangeran atau bangsawan kerajaan pada waktu itu mendapat gelar Rahadian yang artinya Tuanku, dalam proses selanjutnya sebutan ini cukup dipersingkat dengan Raden.

Abdul Khaliq al-Ghujdawani Semoga Allah Meridhoinya

“Cahaya beberapa orang mendahului zikir mereka,
sementara zikr beberapa orang mendahului cahaya mereka.
Ada yang melakukan zikir bersuara agar hatinya diterangi;
dan ada yang hatinya telah diterangi dan berzikir dalam hati”
Ibn Ata’Allah

Dia dikenal sebagai Shaikh dengan berbagai  Keajaiban, Yang Bersinar Bagai Matahari, dan seorang Guru dengan tingkatan spiritualitas tertinggi di jamannya. Ia Pemilik Pengetahuan Yang Sempurna (carif kamil) dalam sufisme dan marifat. Ia dianggap sebagai Sumber Air Terjun Jalan Sufi Terhormat ini dan Sumber Mata Air Khwajagan (Guru Asia Tengah).
Ayahnya adalah Shaikh ‘ Abdul Jamil, salah seorang ulama terkenal di jaman Byzantine, baik dalam pengetahuan eksternal dan internal. Ibunya adalah seorang putri, anak dari raja Seljuk Anatolia. Abdul Khaliq dilahirkan di Ghujdawan, sebuah kota dekat Bukhara (sekarang Uzbekistan). Disanalah ia tinggal, hidup dan dimakamkan. Ia adalah keturunan Imam Malik ra.
Semasa kecil ia mempelajari Qur’an dan tafsirnya, ‘ilm al-Hadits (studi tentang Sunah Nabi), ilmu bahasa Arab, dan Jurisprudensi dibawah bimbingan Shaikh Sadrudin. Setelah menguasai ilmu Syariah, ia melanjutkan ke bidang jihad an-nafs, sampai ia mencapai tingkatan tinggi kemurnian. Kemudian ia pindah ke Damascus, dimana ia mendirikan sebuah sekolah yang berhasil meluluskan banyak murid. Masing-masing murid tersebut menjadi guru ilmu fiqih, hadits dan juga spiritualitas, baik di wilayah Asia Tengah dan Timur Tengah.

Abu Bakar as-Siddiq Semoga Allah Ridha Kepadanya

Hanya satu malam saja
sang bulan mengarungi gugusan bintang
Mengapakah mi’raj kau bantahkan?
Sang Nabi-Mutiara indah tak terkirakan
bagaikan beratus-ratus rembulan
Ia yang hanya dengan sedikit pergerakan
terbelah dualah sang rembulan
Keajaiban ditunjukkannya sesuai batas pemahaman
Semesta tak bertepi dan kerlip bintang
di sanalah segala urusan para nabi dan utusan
Lampauilah semesta,
Lampauilah perputarannya
Kan kau lihat segala urusan yang dimaksudkan
Rumi, Matsnawi.

Rahasia diteruskan dan mengalir dari Guru seluruh umat, Rasulullah kepada Khalifah Pertama, Imam dari semua Imam Abu Bakar as-Shiddiq. Melalui beliau agama mendapat dukungan dan kebenaran dilindungi. Allah swt menyebut dan memujinya dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang suci,
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah swt) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami sediakan jalan yang mudah.” (al-Lail 5-7).
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling bertaqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya ( di jalan Allah swt) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi dia (memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhoan Tuhannya Yang Maha Tinggi.” (al-Lail 17-20)

Ibn al-Jawzi menyatakan bahwa seluruh ulama Muslimin dan para Sahabat yakin bahwa ayat-ayat tersebut merujuk kepada Abu Bakar. Di antara orang yang banyak, beliau dipanggil dengan sebutan “Al – Atiq, “artinya “yang paling shaleh dan dibebaskan dari api neraka.”
Ketika ayat 56 Surat al-Ahzab diturunkan, yaitu bahwa, “Allah swt dan malaikatnya bershalawat kepada Rasulullah, “Abu Bakar bertanya apakah beliau termasuk yang mendapat berkah tersebut. Kemudian ayat 43 diturunkan dan dinyatakan bahwa,
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (al-Ahzab 43)

Syekh Abdul Qadir al-Jaylani

Syekh Abdul Qadir al-Jaylani merupakan tokoh sufi paling masyhur di Indonesia. Peringatan Haul waliyullah ini pun selalu dirayakan setiap tahun oleh umat Islm Indonesia. Tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Tarekat Qadiriyah ini lebih dikenal masyarakat lewat cerita-cerita karamahnya dibandingkan ajaran spiritualnya.Terlepas dari pro dan kontra atas kebenaran karamahnya, Biografi (manaqib) tentangnya sering dibacakan dalam majelis yang dikenal di masyarakat dengan sebutan manaqiban.
Nama lengkapnya adalah Abdul Qadir ibn Abi Shalih Abdullah Janki Dusat al-Jaylani. Al-Jaylani merupakan penisbatan pada Jil, daerah di belakang Tabaristan. Di tempat itulah ia dilahirkan. Selain Jil, tempat ini disebut juga dengan Jaylan dan Kilan.

NASAB
Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir dilahirkan di Naif, Jailan, Iraq, pada bulan Ramadhan 470 H, bertepatan dengan th 1077 M. Ayahnya bernama Shahih, seorang yang taqwa keturunan Hadhrat Imam Hasan, r.a., cucu pertama Rasulullah saw, putra sulung Imam Ali ra dan Fatimah r.a., puteri tercinta Rasul. Ibu beliau adalah puteri seorang wali, Abdullah Saumai, yang juga masih keturunan Imam Husein, r.a., putera kedua Ali dan Fatimah. Dengan demikian, Sayid Abdul Qadir adalah Hasaniyin sekaligus Huseiniyin.